Sekitar abad ke-19, ada seorang samurai yang masih muda dan keras kepala, mengunjungi satu persatu guru Zen yang ada di Jepang. Suatu ketika dia mengunjungi Guru Dokuon. Dengan penuh ambisi, sang samurai itu memamerkan pengetahuannya akan ajaran Buddha klasik, berkata bahwa semua yang ada adalah kosong, sebenarnya tidak ada Anda atau saya, serta mengutip sekian banyak sutra tentang kekosongan dan kehampaan.

Guru Dokuon mendengarkan semuanya dengan tenang sambil mengisap pipa rokoknya yang panjang. Tiba-tiba sang guru memukulkan pipanya ke kepala pemuda itu. Samurai muda itu begitu marah dan hampir saja mau membunuh Guru Dokuon.

Tapi Dokuon berkata dengan tenang, “Kekosongan seperti itu pasti cepat sekali berubah menjadi kemarahan, bukan?

Samurai muda itu terdiam.

Sang Guru melanjutkan: “Terkait soal ajaran agama, terlalu banyak orang yang lebih memilih mengunyah daftar menu dan resep makan, ketimbang mengunyah langsung makanannya.

Sang pemuda kemudian pergi dan menyadari kekurangannya. Dia kemudian melatih diri dalam kerendahan hati berusaha memperoleh pencerahan sejati. Pemuda itulah yang kemudian dikenal sebagai Yamaoka Tesshu (1836-1888), samurai ahli pedang Jepang, yang menciptakan seni filosofis bela diri tanpa pedang.

Sumber: enlightened-spirituality.org

Komentar Anda

komentar