Dalam satu kisah di buku Tawashow Pesantren, Akhmad Fikri menulis tentang satu cerita terkait berkurban di Idul Adha, seperti berikut ini:

**

Suatu hari menjelang Idul Adha ada seorang lelaki datang menghadap Kyai Bisri Syansuri. Dia bermaksud melaksanakan kurban dengan menyembelih seekor sapi, sebab dalam pemahamannya itulah hewan kurban yang paling baik, karena lebih besar untuk jadi kendaraan di Shirathal Mustaqim.

Namun sebelum berkurban, dia berkonsultasi dulu dengan Kiai Bisri, apakah boleh berkurban seekor sapi untuk delapan orang? Sebab yang dia ketahui, menurut ketentuan fiqih, kurban satu ekor sapi hanya untuk tujuh orang saja. Padahal kelurganya ada delapan orang. Orang tersebut ingin di akhirat nanti satu keluarga bisa satu kendaraan (dengan sapi kurbannya) ketika melintasi Shirathal Mustaqim. Tidak terpencar-pencar.

Mendengar penuturan tersebut, Kyai Bisri, yang dikenal sebagai ahli fiqih, langsung menjawab tegas sesuai syariat, “Tidak bisa. Kurban sapi/kerbau hanya berlaku untuk tujuh orang.” Kemudian orang tersebut menawar, “Pak Kyai, apa tidak ada keringanan. Anak saya yang terakhir ini baru tiga bulan.” Dengan lembut dan sabar menjelaskan dasar hukumnya, pendiri Pondok Pesantren Denanyar itu tetap menjawab, tidak bisa. Dan itu memang benar, hukum memang tidak bisa ditawar-tawar.

Merasa tidak puas, orang itu pun mengadukan persoalannya kepada Kyai Wahab di Tambak Beras. Mendengar persoalan yang diadukan tadi, Kyai Wahab memahami bahwa orang tersebut sebenarnya punya niatan baik, hanya saja kurang memahami makna dan aturan fiqih.

Maka sang Kyai pun menjawab dengan ringan, “Bisa. Sapi itu bisa digunakan untuk delapan orang. Cuma karena anakmu yang terakhir itu masih kecil, maka perlu ada tambahan.” Kyai Wahab menambahkan, “Agar anakmu yang masih kecil tersebut bisa naik ke punggung sapi, harus pake tangga. Sampeyan sediakan seekor kambing agar anak sampeyan bisa naik ke punggung sapi.

Ah, kalo cuma seekor kambing saya sanggup menambah. Dua ekor pun saya sanggup asal kita bisa bersama-sama, Kyai,” kata lelaki tersebut dengan lugunya. Akhirnya, orang tersebut menyerahkan seekor sapi dan seekor kambing kepada Kiai Wahab untuk kurban mereka di hari raya.

**

Lewat kisah itu Ahmad Fikri ingin menggambarkan betapa luwesnya pemahaman Islam di kalangan pesantren. Satu persoalan bisa diselesaikan dengan dua pendapat yang berbeda dan keduanya sama-sama benar. Namun karena orang yang bertanya itu termasuk lugu, maka jawabannya pun harus disesuaikan dengan keluguannya dengan tidak menyalahi hukum syariat.

Komentar Anda

komentar