Dalam Peresmian Kampus Universitas Yudharta, Pasuruan di Bulan Mei 2005, turut diadakan pula kolokium ulama se-Indonesia. Saat itu alm KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi salah satu tokoh yang menyampaikan orasi ilmiah. Selain para ulama Islam, acara itu juga dihadiri para tokoh lintas agama, termasuk sejumlah rohaniwan Katolik.

Sebagaimana gaya khas Gus Dur, dalam tiap kesempatan berbicara di depan publik, ia selalu dengan cerdas menyisipkan humor. Termasuk saat orasi ilmiah ini.

Karena di hadapan Romo, saya tidak tahan, terpaksa, menceritakan yang belakangan ini, sebagai penutup,” ungkap Gus Dur mengawali ceritanya.

Presiden keempat Indonesia itu pun menceritakan soal St. Paus Yohanes Paulus II yang pernah beberapa kali dijumpai Gus Dur semasa hidupnya. Konon, menurut Gus Dur, beberapa bulan sebelum wafatnya, Sri Paus datang ke New York di Amerika Serikat. Sore-sore, dia naik mobil di pinggir kota yang sepi. Sri Paus kemudian meminta pada supirnya agar pindah ke belakang, sebab Paus ingin belajar menyetir. Berhubung umurnya sudah 84 tahun, jalan saja Sri Paus sudah sangat sulit. Walhasil, dua menit kemudian mobil langsung masuk selokan.

Polisi kemudian, datang: wiu-wiu-wiu…” lanjut Gus Dur semakin dramatis. “Diurusi semuanya, beres. Ya ndak kecelakaan, orang pelan saja kok.

Polisi itu menelepon kepada komandannya:

“Komandan, saya ini lagi ngurusi orang penting kecelakaan.”

“Siapa? Presiden?”

“Bukan!”

“Wakil Presiden?”

“Bukan!”

“Menteri?”

“Bukan!”

“Senator atau Gubernur?”

“Bukan!”

“Wali Kota?”

“Bukan!”

“Lha, siapa?”

“Ndak tahu. Sopirnya saja, Paus!”

Yang diurusi malah sopir yang dibelakang!” imbuh Gus Dur yang seketika membuat semua peserta terbahak.

Sumber: nuonline

Komentar Anda

komentar