Suasana Natal masih sangat terasa di sore jelang maghrib itu. Masih ada kue-kuekhas Natal, pohon terang, serta sejumlah kidung-kidung Natal yang bernada lembut di ruang doa. Rabu (27/12) puluhan orang dari berbagai latar belakang memang sengaja datang ke tempat yang merupakan Susteran dari Tarekat Hati Kudus Yesus (Religiosa Sanctissimi Cordis Jesu, RSCJ) di Kota Bandung. Mereka melakukan kegiatan rutin tiap Rabu akhir bulan, yang disebut sebagai Halaqah Damai.

Sr. Gerardette Philips, sang tuan rumah menjelaskan Halaqah Damai lebih ke arah upaya belajar bersama dan berbagi secara personal serta spiritual, pengalaman orang-orang dari berbagai latar belakang, saat membangun kerukunan dan perdamaian di kehidupan sehari-hari. Tema-tema yang diangkat merupakan tema-tema yang menekankan pada nilai-nilai kemanusiaan dan harmoni. Seperti pada Halaqah Damai di akhir Desember ini, tema yang diangkat adalah terkait sikap menghargai (respect).

Kegiatan ini amat terbuka untuk setiap orang dari tradisi agama apapun. Sebab tidak menyangkut satu ritual agama tertentu, namun lebih ke arah berbagi bagaimana pengalaman spiritual masing-masing membentuk mereka untuk menjadi pribadi yang mengusahakan perdamaian.

Adalah momen yang unik, misalnya saat melihat mahasiswi dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung berbagi dengan seorang suster RSCJ, tentang apa makna hidup yang mereka jalani dan bagaimana mereka menghargai makna hidup orang lain.

Hal-hal seperti ini mungkin tidak dijumpai dalam forum akademis, atau dialog antar pemimpin agama dan pemerintah,” ujar Sr. Gerardette. Meski mengakui peran penting dialog-dialog seperti yang selama ini dilakukan, biarawati kelahiran Bushawal, lima puluh satu tahun silam itu meyakini perlu pula menonjolkan dialog spiritual yang sifatnya personal dan keseharian seperti ini. Hal itu dipercayanya akan semakin membuat ide tentang harmoni membumi dan dialami. Bukan sekedar diteorikan.

Kegiatan ini memang baru berjalan dua kali sejak November lalu. Namun imbasnya memang cukup dirasakan oleh tiap peserta yang hadir. Bagi Aini, salah seorang peserta, momen ini adalah momen berbagi yang cukup unik. Ia bisa dengan terbuka menyatakan apa yang diyakini serta bagaimana ia mempraktikkannya, sembari ia mendengar dan menghargai pandangan hidup orang lain. Ia menemukan sejumlah kesamaan, sekaligus juga keunikan masing-masing.

Halaqah sendiri diambil dari Bahasa Arab, yang sejatinya berarti lingkaran, atau orang-orang yang duduk berkumpul berbentuk lingkaran. Istilah ini erat kaitannya dengan model pendidikan dan belajar bersama dalam mengkaji ilmu keagamaan Islam, terutama yang bersifat membentuk karakter. Bagi para pegiat Halaqah Damai ini, semangat kedekatan dan kerinduan untuk belajar dan membentuk karakter itulah yang menjadi cita-cita untuk mewujudkan perdamaian melintasi berbagai agama dan kepercayaan. **arms

Komentar Anda

komentar