Tahun ini peringatan Maulid Nabi Muhammad, 12 Rabiul Awal jatuh pada Selasa (20/11). Dalam banyak tradisi di Islam, peringatan ini biasanya dilakukan dengan semarak. KH Zaim Ahmad Maísum (Gus Zaim), pengasuh Pesantren Kauman Lasem, Rembang menjelaskan bahwa hal ini adalah bentuk umat Islam mengeskpresikan cinta kasihnya kepada Nabi Muhammad SAW.

Maulid itu kan sunah Rasul. Boleh kan ketika orang yang menyayangi Rasul mengeksplorasi bentuk rasa sayang itu dalam berbagai macam kegiatan?” ungkap Gus Zaim.

Ia menjelaskan bahwa perayaan yang meluas seperti ini dimulai dari masa Salahudin al-Ayubi, sultan pertama dinasti Ayyubiyah. Dalam kisah itu, ketika para prajurit usai perang, mereka mengalami keletihan luar biasa. Kemudian Sultan Salahuddin meminta mereka merayakan maulid Nabi. Dia mengumpulkan mereka dengan mengagungkan Rasul dan membaca sajak dan syiir mengagungkan Rasul.

Meski demikian petunjuk untuk perayaan kelahiran Nabi juga telah ada sejak zaman Rasulullah. “Setiap Senin Rasulullah berpuasa. Ketika ditanya, beliau menjawab, ‘Ini kan hari kelahiranku.’ Rasulullah merayakan dengan puasa. Sekarang ada dengan macam-macam cara. Itu kan bentuk dari perkembangan rasa sayang orang-orang kepada Rasulullah.

Dalam perkembangan terkini, tentu pemaknaannya berkembang. “Saya rasa, sekarang ini tujuannya berbeda-beda. Pertama, menyanjung Rasul dan itu pahala. Kedua, juga mempunyai hikmah menyatukan kembali kekuatan muslim. Ketiga, memberikan pesan ke masyarakat luas bahwa Islam itu rahmatan lilalamin. Itu bagian dari banyak misi dari peristiwa perayaaan maulid itu,” tegas Gus Zaim.

Putra bungsu dari pasangan KH. Ahmad Syakir dan Nyai Faisah ini melihat bahwa keragaman pemaknaan dan cara memperingati maulid itu merupakan pola dakwah inkulturatif serta tidak melanggar syariat dan akidah.

Itu garis Nahdlatul Ulama. Islam mengajarkan tenggang rasa, istilah sekarang toleransi. Islam mewajibkan masyarakat bertenggang rasa. Bukan hanya sesama Islam, melainkan agama lain pun sama, dalam konteks kemanusiaan.

Lebih jauh ia melihat banyak hal bisa diambil dari perayaan maulid. Kalau ada perayaan maulid, menjadi tempat kumpul umat Islam. Ketika kumpul, banyak hal yang bisa dilakukan. Namun yang penting amalan-amalan yang dilakukan itu memberikan manfaat terhadap orang lain. Sebab sejatinya maulid merupakan bentuk ekspresi kasih sayang.

Jangan kita balik, mumpung kumpul melakukan hal yang bersifat melawan hukum atau menyengsarakan orang,” lanjutnya seraya mencontohkan bagaimana pesantren yang ia pimpin merayakan Maulid.

Kami sudah melakukan itu (di pondok). Maulid Nabi di sini ada beberapa cara. Khotmil al-Qurían binnador dan bilgoib, maulid Nabi, haul mbah saya. Karena momentum berbeda, kami mengadakan berbagai acara. Otomatis bukan hanya bersifat seremoni besar-besaran, melainkan yang memiliki makna. Kemarin tema utama yang diangkat adalah toleransi. Itu yang menurut saya sangat bermanfaat bagi masyarakat, memberikan pembelajaran tentang toleransi.

Sumber: suaramerdeka.com

Komentar Anda

komentar