Ada yang unik di tengah dinginnya udara musim gugur, Sabtu lalu (24/11) di Paris. Warga ibukota Perancis itu mendapatkan suguhan unik yaitu rekonstruksi prosesi Grebeg Maulud, sebagaimana yang lazim dilakukan di sejumlah keraton Indonesia seperti di Yogyakarta.

Rekonstruksi prosesi Grebeg Maulud ini diselenggarakan atas prakarsa Institut des Cultures d’Islam (ICI) dan Komunitas Seni 7+ serta didukung oleh Kedutaan Besar Indonesia dan sejumlah asosiasi Indonesia di Paris. Kesuksesan acara ini tidak lepas dari aktifnya partisipasi sekitar 40 masyarakat diaspora Indonesia di kota Paris, yang secara aktif mempersiapkan perlengkapan prosesi, menari serta menyiapkan kue-kue jajanan tradisional.

Acara ini berhasil menarik perhatian warga yang memadati ruangan ICI serta mengikuti prosesi gunungan sepanjang 260 m yang diarak dari gedung ICI Léon menuju gedung ICI di Goutte d’Or. Prosesi Grebeg Mualud diawali penampilan penari Herman Sitepu sebagai cucuk lampah atau pembuka jalan. Iring-iringanan terdiri dari barisan penari dan pemusik di bawah arahan artisitik dan musik oleh Kadek dan Christophe Moure, yang sangat aktif berkiprah dalam mempromosikan dan melestarikan seni tari dan gamelan Indonesia di Prancis.

Peserta ‘Grebeg Mualud’ itu berkostum tradisional kebaya dan beskap lurik. Mereka mengiringi dan memanggul dua gunungan. ‘Gunungan Jaler’ terbuat dari sayur-mayur yang dibeli di pasar lokal Château Rouge dan ‘Gunungan Estri’ terbuat dari makanan jadi sumbangan masyarakat Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya dan Pariwisata di KBRI Perancis, Rully F. Sukarno, yang memberikan kata sambutan.

Sandy Huynh dan Upie Mengual dari komunitas Seni 7+, menjelaskan penyelenggaraan Grebeg Maulud ini bertujuan untuk memperkenalkan prosesi sebagai salah satu kegiatan budaya Indonesia yang merupakan akulturasi antara kebudayaan lokal Hindu (upacara selamatan) dengan kebudayaan Islam (Maulid Nabi).

Prosesi ini menarik di tengah maraknya aksi sebagian kecil masyarakat di Indonesia yang justru menolak beberapa kegiatan budaya dan adat yang dianggap bertentangan dengan nilai agama, Grebeg Maulud di Paris tidak semata sarana untuk memperkenalkan budaya Indonesia di Perancis, tetapi merupakan upaya aktif menunjukkan dukungan terhadap keberagaman dan kelestarian adat tradisi lokal Indonesia.

Kegiatan ini mengedepankan nilai-nilai budaya dan artistik Indonesia yang tercermin mulai dari persiapan hingga acara berakhir, yaitu: nilai gotong-royong dan kebersamaan, toleransi beragama, upaya pelestarian tradisi dan wujud ekspresi estetik masyarakat Indonesia.

Sumber: suratdunia.com

Komentar Anda

komentar