Pada masa dinasti Song (960 – 1279 M) kaisar Song Ren Zong memberi gelar khusus kepada keturunan keluarga Nabi Kong Zi sebagai Pangeran Yan Sheng. Gelar ini boleh diturun-temurunkan agar keluarga Kong terus berjaya. Karena kedudukan yang istimewa, keturunan Nabi Besar Kong Zi mendapat hak-hak khusus untuk diizinkan masuk di lingkungan istana. Mereka mendapat gelar turun temurun sebagai Yan Sheng Gong.

Selama pemerintahan dinasti Ming (1368 – 1644) dan Qing (1644 – 1911), Pangeran Yan Sheng mendapat kehormatan untuk berjalan di sebelah kaisar di istana. Ia juga diizinkan berkuda di lingkungan ‘Tembok Kota Terlarang Ungu’, selain mendampingi kaisar dalam inspeksi ke lembaga-lembaga pendidikan. Pendidikan merupakan bagian dari pendidikan rohani, moral kebajikan.

Nabi Besar Kong Zi adalah orang pertama yang menerima kelebihan spiritual, mengembangkan wahyu yang diturunkan kepada para Nabi sebelumnya, seperti Yao, Shun, Yu, Cheng Tang (nenek moyang Nabi Besar Kong Zi dari pihak ayahanda Kong Shu Liang He), Wen Wang dan adik keempat pendiri dinasti Zhou, Wu Wang yakni pangeran Zhou Gong (nenek moyang Nabi Besar Kong Zi dari pihak ibunda Yan Zheng Zai).

Sejak puteranya yang kelak dikenal sebagai Da Cheng Zhi Sheng Kong Zi masih dalam kandungan, ibunda Yan Zheng Zai telah menerima petunjuk tentang wahyu Yu Shu yang Tian turunkan kepada Nabi Besar Kong Zi. Hal itu digambarkan dengan kedatangan hewan mulia Qi Lin dengan melontarkan keluar dari mulutnya batu kumala yang bertuliskan perihal Yu Shu dan Kan Sheng, kelebihan spiritual yang hanya dikaruniakan kepada Nabi Besar Kong Zi.

Jika para Nabi sebelumnya di dalam Ru Jiao pada umumnya seorang Raja Suci (Sheng Wang) dan keturunan istana, maka Nabi Kong Zi saat dilahirkan bukan lagi lekat dengan istana. Beliau dilahirkan sebagai bagian dari rakyat kebanyakan negeri Lu. Nabi Besar Kong Zi, bernama Kong Qiu alias Zhong Ni adalah putera perwira Kong Shu Liang He dan ibunda Yan Zheng Zai, yang bukan lagi seorang bangsawan istana.

Baca juga:  Kirab Barongsai Meriahkan Perayaan Imlek di Pati

Justru kelebihan spiritual yang dikaruniakan Tian kepada Nabi Besar Kong Zi, beliau difirmankan sebagai Genta Rohani Tuhan YME (Tian Zhi Mu Duo), juru penerang dan penyedar rohani insan beriman Ru Jiao. Di zaman yang sudah berubah itu, Nabi Besar Kong Zi memiliki 3000 orang murid. Beberapa murid adalah para pangeran Negeri Lu, namun kebanyakan murid beliau adalah dari kalangan rakyat jelata.

Nabi Besar Kong Zi pernah menduduki jabatan perdana menteri dan menteri hukum di Negeri Lu, tetapi lebih banyak yang mengenal beliau adalah seorang suci dan mulia yang berprofesi sebagai Guru Besar (Fu Zi). Acapkali kita dengar beliau dipanggil dengan sebutan Guru Besar Kong atau Kong Fu Zi.

Kelebihan spiritual sebagai Guru Besar inilah yang menyebabkan beliau dihormati oleh seluruh umat Tuhan (Tian Min) di zaman Chun Qiu (bagian dari masa kekuasaan dinasti Zhou). Dari raja sampai rakyat jelata, utamanya kaum cendekiawan menghormati beliau.

Ini pula sebabnya semua raja di berbagai dinasti kemudian memberikan gelar anumerta khusus. Bahkan, dua tahun sesudah kemangkatan Nabi Besar Kong Zi, Raja Lu Ai Gong membangun sebuah Kelenteng Besar untuk menghormati Nabi Besar Kong Zi, yang disebut Kong Miao.

Di antara Kong Miao yang dibangun para raja dinasti berikutnya ada yang memakai nama Kong Zi Miao, adapula yang dinamakan Wen Miao (seperti yang dibangun di kota Surabaya, Jawa Timur – Indonesia). Keturunan beliau, dari generasi ke generasi, seperti disebutkan terdahulu, juga mendapatkan kedudukan terhormat sebagai Pangeran Yan Sheng dari kerajaan.

Bahkan, pernah seorang putri kaisar menikah dengan seorang Pangeran Yan Sheng. Kedudukan terhormat bagi seluruh keturunan Nabi Besar Kong Zi ini menunjukkan betapa pentingnya Ru Jiao atau agama Khonghucu dalam kehidupan masyarakat pemeluknya, maupun bagi sistem moral kepemimpinan negara semenjak berabad-abad yang lalu.

Baca juga:  PGI Sesalkan Gereja Pantekosta di Surabaya Abaikan Imbauan Social Distancing

Pada abad-abad berikutnya, Ru Jiao memberi pengaruh terhadap perkembangan peradaban dan kebudayaan serta way of life bangsa-bangsa di berbagai wilayah, utamanya di kawasan Asia Timur. Agama Khonghucu di kawasan Asia Timur terutama di Korea dan Jepang, serta Indo China, terutama Vietnam maupun Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, memiliki pemeluk, tokoh agamawan, dan cendekiawan Kong Jiao yang ikut berperan serta di dalam kebersamaan lintas tokoh agama besar dunia.

Keturunan nabi Kong Zi ke 77 Kong De Mao menulis dalam sebuah hikayat keluarga Kong:

”Ayah saya, Kong Ling Yi diangkat sebagai Pangeran Yan Sheng ke-76, sejak usia lima tahun dan meninggal tahun 1919. Adik saya satu-satunya laki-laki adalah Kong De Cheng lahir setelah ayah meninggal.

Kong De Cheng diangkat sejak lahirnya sebagai Pangeran Yang Sheng ke-77 Konon, ia mirip betul dengan ayah. Kami berdua masih mempunyai seorang kakak perempuan, Kong De Qi.

Kong De Cheng (sampai akhir hayat sebagai professor di beberapa perguruan tinggi di berbagai negara) dilahirkan tanggal 4 bulan pertama Yin Li atau 23 Februari 1920. Kata orang, Kong De Cheng memiliki ‘kelebihan’ yang tak dimiliki orang biasa. Suatu ketika seekor ular bergelung di atas pintu, orang tak berdaya mengusirnya pergi, tetapi begitu De Cheng datang, ular itu langsung merayap pergi.

Kami tinggal dalam kompleks istana yang didirikan secara bertahap sejak tahun 1038. Di tempat seluas ± 15 ha itu terdapat berpuluh-puluh bangunan selain taman, kolam, dan sebagainya. Jumlah ruangannya lebih dari 460 buah. Kediaman kami itu pernah didatangi oleh berbagai dinasti.

Di zaman Republik, Generalissimo Chiang Kai Shek pun pernah berkunjung; kira-kira 2 km ke sebelah utara ada tanah pemakaman keluarga kami yang disebut: ‘Kong Lin’ artinya Hutan Kong Fu Zi. Luasnya ± 23 ha dan dikelilingi oleh 7,5 km tembok, sehingga menjadi taman yang paling besar di Cina. Disanalah Nabi Agung Kong Zi dimakamkan”.

Baca juga:  Bukan Gong Xi Fa Cai, Begini Ucapan Tahun Baru Imlek Tempo Dulu

Kisah sejati di atas dipetik dari wawancara langsung cucu keturunan Nabi Besar Kong Zi, Kong De Mao. Kisah ini tidak banyak terungkap sebelumnya, betapa untuk ribuan tahun kebesaran kebajikan Nabi Besar Kong Zi di bawa dari generasi ke generasi di kalangan keturunan beliau.

 Xs. Buanadjaja B.S., Dewan Rohaniwan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)

Sumber: kemenag.go.id
Sumber foto: khonghucuindonesia.wordpress.com

Bagikan

Komentar Anda

komentar