Kalau ada yang bertanya, “Apakah seorang religious harus sehat ?”, pasti setiap penanggung jawab pembinaan pada setiap Tarekat/Kongregrasi akan menjawab: “ya harus itu, ” karena kesehatan yang baik adalah modal utama bagi kaum religious untuk merasul, menjilmakan Kharisma dan semangat Tarekatnya dalam segala bentuk karya kerasulan.

Antara  lain:  Karya  Pendidikan, kesehatan, social yang  meliputi ( Panti  asuhan,Panti  Wreda, pendampingan  kaum  migran, anak  jalanan/ anak  di bawah  kolong  Jembatan, Pastoral, Pelayanan  di  Rumah  retret  dan lainnya).

Oleh  karena  itu  setiap  calon  yang  tertarik untuk masuk  dalam  Tarekat  selalu  diminta  untuk  test  kesehatan, atau  ditest  di  Rumah Sakit  milik  Tarekat supaya  hasilnya otentik. Kadang  banyak  yang  tidak  diterima  karena mengidap  penyakit  yang  menular.

Nah  ketika  calon  mengalami  masa  pendidikan, keadaan  kesehatanpun  tetap  diperhatikan/ dipantau.  Bicara  tentang  kesehatan mencakup  pelbagai  segi, kesehatan  badan, emosi, spiritual, mental,dan  masih  banyak  yang  bisa dibahas.

Seorang  yang  sehat  bisa  digambarkan bahwa  orang  tersebut  berwajah  segar, sumringah, bersemangat, cekatan, dapat  melakukan  aktifitas  keseharian, berjalan, mungkin berlari, meloncat. Kulit cerah, mata  berbinar, wajah cerah, hal  ini  kalau  dilihat secara  lahiriah.  Dan  orang  tersebut berdaya  tahan  dalam  pekerjaan dan  tanggung  jawabnya, jarang  sakit, bahkan  tidak  pernah  sakit.

Kesehatan  rohani  bisa  digambarkan  bahwa  orang  tersebut, seimbang.Memiliki  kesehatan mental berkaitan dengan sikap, kepribadian, perkembangan bahkan kemampuan akademik, bagaimana  dia  memandang dirinya sendiri dan lingkungannya. Hal ini berhubungan dengan kemampuan seseorang  dalam  menghadapi stres dan tantangan.

Sebenarnya dalam  kehidupan  religius  sendiri, sudah menyediakan  sarana “untuk  Hidup  Sehat”  baik  secara  Jasmani  maupun  rohani. Kalau  dijalankan  dengan  penuh  ketekunan, kesetiaan, seorang  religius  dapat  menjaga, mengusahakan  hidupnya  secara  sehat. Betapa tidak, dalam  hidup religius sudah  terbiasa bangun pagi, mandi, bermeditasi, doa  pagi, ibadat  Ekaristi.

Hal  ini  merupakan  awal  dari  membangun  kesehatan  rohani, emosi  dan  membangun  kesadaran  pribadi.  Setelah  itu  Makan  pagi, bersih-bersih ruang  pribadi, mencuci baju  sendiri, berangkat  kerja  sesuai  tugas. Nah  apa  ya  tidak  sehat? Seorang  religius tidak  pernah  memikir  besok  pagi  saya  makan  apa ya? Kecuali  yang  bertugas  di dapur.

Begitu  selesai Misa  pagi, makanan  sudah  tersedia  di  meja, tinggal  makan. Jam 9.30 -10.00 dibiara  biasa  ada  acara nyamik / snoep, marienda disitu  tersedia  makanan  kecil  dan  minumannya, lanjut  kerja  lagi, pkl 12.30- 13.00 makan  siang, pkl 16.00 nyamik, snoep, marienda, sore dan  pkl 19.00  makan  malam. Nah  dilihat  dari  asupan  gizi  dan  makanan  seorang  religious ya  pasti  sehat. “Men Sana  in  Corpore  Sano” (di dalam  tubuh  yang  sehat  terdapat  jiwa  yang  sehat).

Baca juga:  Musdah Mulia tentang Pentingnya Agama yang Humanis

Kesehatan  Rohani dimulainya  waktu  meditasi  pagi, doa  pagi, Perayaan  Ekaristi, pemeriksaan  batin  siang/ doa  siang,doa  sore+ Persiapan  meditasi ( membaca  Injil ), doa  malam  +  Pemeriksaan  batin  malam, belum  termasuk  Doa  pribadi  dan  Bacaan  Rohani, kalau  hal  ini  ditekuni/disetiai  seorang  religius  akan  bisa  mengolah  rasa, emosi  dan  rohaninya  sehingga  bertumbuh  menjadi  sehat.

“Corpus  sanum  in  Mentem  Sanam”. Di dalam  Jiwa  yang  sehat,terdapat  tubuh  yang  sehat pula, rasa  gembira  akan  menuntun  tubuh  kita / organ  dan  sel-sel tubuh  kita  selalu  sehat. Keduanya  sangat  berkaitan dan  kita  sebagai  pribadi meski  bisa menyeimbangkan keduanya  agar  senantiasa  harmoni  dalam  tubuh, diri, dan  jiwa kita.

Sebagai  contoh  Saya  sendiri sewaktu  masih  muda, porsi  makan  saya  banyak, karena  ya boleh  dikata  kerja keras, makan  apa  saja  terbentuk  jadi  tenaga  dan  tubuh  saya  tetap  fit  dan langsing (tidak  kurus lho)  karena banyak  bergerak, naik  sepeda, jalan  kaki, keliling  kelas, tidak  istirahat  siangpun  tidak  masalah.

Kalau  ada  makanan  yang  sisa, dengan  bersendau  gurau  Piko (Pimpinan  Komunitas)  mengatakan, “Ayo yang  muda  ini  menyelamatkan  harta  kongregasi” Saya  makan  ya  tidak  jadi  soal, puji  Tuhan tetap  sehat, no  kolesterol, no  darah  tinggi, no  kegemukan. “aman-aman  sa!,” kata  orang Kupang.

Namun  sekarang porsi  makan  saya  kurangi, tidak  snoep / nyamik, kecuali  kalau  ada  pesta dan  kumpul  bersama. Kenapa?  Karena  tugas  saya  tidak  seperti  dulu, sekarang  banyak  duduk, kalau  toh  saya  keliling  melakukan  perjalanan  juga  duduk, di  ruang  tunggu, di pesawat, di  Kereta Api, di  Mobil.

Yang  penting  dalam  hal  makan  kita  tetap  ugahari, merasa  cukup  apa  yang  disediakan  komunitas, dan makan  makanan  yang  sehat, banyak  sayur  dan  buah serta  mengendalikan  diri, makan  yang  dibutuhkan  tubuh, tidak  mengumbar  nafsu, makan melebihi  batas karena  “karena  saya  suka”

Baca juga:  Pertama Kali ke Irak, Paus Fransiskus Akan Bertemu Ulama Syiah

Mencintai  Alam dan  Memelihara  Semesta
Hobi yang sehat  merangkum  tubuh, jiwa  dan  perasaan  yang  sehat, mencintai  alam,dan  memeliharanya. Adakalanya  kita  perlu keluar  dari  rutinitas dan  mengadakan  rekreasi di  alam  terbuka.

Untuk  hal  ini  dalam  tarekat,  kami  biasakan  untuk  rekreasi  diluar dalam  kelompok  Yunior, Medior  dan  para  Suster  Lansia. Juga  sebagai  Ketua  IBSI (Ikatan  Biarawati  Seuruh  Indonesia), yang  bertanggung  jawab  untuk  membuat  kegiatan  para  Religius, pada  setiap  pertemuan  kami  selipkan acara  Outing, hasilnya  luar  biasa. Para  Suster  bersendau  gurau,  cerah  ceria  meskipun  kegiatan  penuh  tidak  terasa  karena  telah  meresap  kesegaran yang  dihadiahkan  oleh  Alam  Raya.

Untuk  hidup  sehat secara  mental dan social, emosional ada  kiatnya, seorang religious mesti  punya  hobi  yang  menyehatkan misalnya : Olah raga, berkebun, melukis, menulis, membuat  lagu, menyanyi, yang  diramu  sebagai  bentuk  rekreasi  yang  sungguh  dirasa  rilex  dan  membawa  diri  dalam  situasi  semangat  dan  fit  untuk  bekerja. Selain  itu  juga  mempunyai   rasa  social  dan  berelasi  yang  sehat, punya  sahabat, teman untuk  curhat, berdiskusi, tukar  pengalaman  dan  membangun ide  kegiatan  yang  bermanfaat.

Memelihara  tanaman untuk  menghias  kapel, menanam empon- empon (kunyit, jahe, kencur, sere dan  tanaman  herbal  lainnya  untuk  minuman  sehat  dan  segar  bagi  tubuh)  murah, meriah, organic  hasil  kebun  sendiri.

Jika  malam  hari, saya  lebih  suka suasana  tenang, membaca, menulis, sehingga  bisa  meng-inspirasi  diri  sendiri maupun  orang  lain. Bagiku  menulis  tidak  hanya  sekedar hoby  tapi  juga  suatu  terapy bagi  kesehatan mental  dan  jiwa, menyeimbangkan  emosi  dan  mengolah  rasa, karsa  dan  menggali  ide-ide  baru.

Menulis juga  melatih  kedisiplinan, belajar  berpikir  teratur, terstruktur  dan  menuangkannya  dalam  bentuk  tulisan. Menulis  seperti  melukis  menciptakan  keindahan  ide  dan  menggambarkan  sesuatu  secara  original, jelas, jujur, apa  adanya dan  dibalut  keindahan.

Sebagai  seorang  Religius  di  jaman  millenial  ini kita  mesti  menggunakan  sarana  medsos  untuk  pewartaan kharisma  dan semangat  tarekat kita, untuk  merasul mencari  domba  yang  hilang, atau  mencari  domba  yang  belum  menemukan tempatnya.

Punya  akun  Facebook, Instagram, Youtube sangatlah  berguna, untuk  mewartakan   karbar  baik  dan  kasih  Allah  dan  memberi  wawasan bagi  banyak  orang juga  untuk  membangun karakter  social  yang  sehat.

Baca juga:  Hoaks Anak NU Dilarang Sekolah di Muhammadiyah, Mahfud MD Diminta Bertindak

Bagi  saya  ini suatu  gebrakan  yang  luar  biasa yang  bisa  membentuk para  religious  muda untuk berorganisasi, bekerja  dalam  Team, berinteraksi  secara  dewasa, saling  bertukar  ide dan  Inspirasi untuk  merasul  dijaman  yang  serba  IT  ini , menjalin  komunikasi  yang  sehat.

Kedisiplinan, Kesetiaan  yang  membuahkan  Rasa  Damai
Rasa  damai  mesti  diusahakan oleh  seorang  religious  dan  menjadi  habitus  dalam  hidup dan nuraninya.  Orang  yang  damai  akan  bekerja  secara  optimal, cepat, tepat  waktu  dan menyenangkan  bagi  diri sendiri  maupun  orang  lain.

Membentuk  suasana  hati yang  damai yang  pasti  akan  membentuk  juga  kesehatan  mental  dan  jiwa  kita. Semua ini  mesti  dilakukan sejak  awal sebagai  seorang  religius muda.

Disiplin  dalam  menggunakan  waktu, entah  itu  waktu  doa, kerja, istirahat, rekreasi dll, mesti  diberi  porsi  yang  seimbang. Setia  dan  jujur, dengan  ujud  murni  apa  yang  saya  kerjakan/lakukan  ini  untuk  kemuliaan  Tuhan.  entah  itu  dilihat  pimpinan  atau  tidak.

Kalau  kita membiasakan  diri  kita  untuk  hidup  tertib, disiplin, jujur, setia ini  sudah  merupakan  modal  besar  untuk  menumbuhkan  kedamaian  hati, bahwa  apa  yang  saya  lakukan  adalah  sesuatu  yang  baik, benar  dan  berkenan  pada  Tuhan.

Saya  banyak  belajar  pada  para  suster Lansia  yang  hidupnya  begitu  teratur, tepat  waktu  dan  setia, semua  itu  adalah  habitus  yang  dibangun  sejak  muda dan  membuahkan  kesehatan  secara  menyeluruh dalam  segala  aspek.

Saya  pribadi  tidak  suka  bekerja  dalam  suasana  “terburu-buru”  maka  yang  saya  usahakan adalah, jika  ada  pertemuan  saya  akan  datang  sebelum Jam  yang  ditentukan, saya  membuat  jadwal  apa  yang  akan  saya  lakukan  hari  itu dan  mensetiainya.

Dalam  kenyataan  yang  saya  rasakan  semakin  saya  banyak  pekerjaan, semakin banyak  waktu  yang  tersisa, mengapa?  Karena  saya  menyelesaikan  pekerjaan TIDAK  pada  saat  deadline, melainkan  sebelumnya sehingga  saya  merasa  tenang  dan  masih  bisa  menyelesaikan / melakukan  pekerjaan  yang  lain.

Hati  saya  damai, tenang, puas  dan  bahagia, dengan  demikian  saya  bisa  tidur  nyenyak, bangun  dengan  segar, memuji  Tuhan  untuk  bekerja  lagi, bukankah  hidup  seperti  ini  sangat  menyehatkan! Salam  sehat dan  jangan  lupa  Bahagia.

Penulis: Sr Maria  Monika Puji Ekowati SND, Biarawati Tarekan SND
Sumber: kabardamai.id

Bagikan

Komentar Anda

komentar