Robertus Suryatno sebenarnya lebih suka peran di belakang.

Para pegiat lintas iman Bandung sudah mahfum soal ini. Pria yang akrab disapa Robert itu dikenal rajin menghadiri pertemuan, memberi usul yang sangat strategis serta sangat mendukung teknis kegiatan. Tidak terlalu memusingkan soal posisi atau sorotan pentas.

Saya kan menikmati peran sebagai jembatan,” ungkapnya menyebut peran yang ia sukai sejak mulai terlibat dalam aktivitas lintas iman di tahun 2003. Bagi Robert, mempertemukan pemimpin umat, mengenalkan antar lembaga lalu memulai kerjasama lintas agama punya keasyikan sendiri, meski ia sendiri tidak terlalu banyak tampil.

Namun, Robert juga memahami pentingnya fasilitator untuk gerakan lintas iman. Maka, saat Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) melakukan revitalisasi di November lalu dan ia diminta mengemban tugas Sekretaris Jenderal, pria 57 tahun ini menerima dengan penuh pertimbangan.

Robert sudah terlibat sejak cikal-bakal pembentukan FLADS. Pada saat rekan-rekan Muslim menghadiri perayaan serta menyampaikan Selamat Natal di Katedral St. Petrus Bandung tahun 2006. Demikian pula Halal bi Halal Lintas iman pada momen Idulfitri. Dalam perannya sebagai pengurus Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayan (Kom HAK) Keuskupan Bandung, Robert kemudian terlibat aktif di FLADS.

Menurutnya, sampai saat ini kegiatan lintas iman di Bandung memang belum memaksimalkan semua potensi. ”Kalau diibaratkan mesin, ya baru sekitar 20-30% giginya yang jalan,” komentarnya.

Ia memaklumi prioritas tiap orang dan lembaga tak bisa dipaksakan. Namun, ia berharap ada komitmen lebih, mengingat peran gerakan lintas iman sebagai perekat masyarakat senantiasa diperlukan. Kebutuhan itu sendiri semestinya dirasakan semua.

Itu juga yang menjadi syarat saya mengemban peran di kesekretariatan FLADS kemarin. Sebisa mungkin semua punya sumbangsih. Tapi, kalaupun baru mulai dengan tiga puluh persenan gigi yang jalan, ya kita mesti jalan dengan yang ada itu,” ungkapnya.

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Baca juga:  Seorang Penganut Katolik Di Kampung Nusantara, Sei Jang, Hibahkan Tanahnya Untuk Pembangunan Masjid