Kalau ingin tahu soal asal muasal Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat, cobalah berkunjung ke Kampung Saonek di Distrik Wageo. Menurut penuturan warga, Kampung Saonek dulunya adalah ibu kotanya Raja Ampat sebelum dimekarkan menjadi kabupaten. Jejak sejarah Raja Ampat dapat diketahui dari sebuah monumen kecil yang berdiri di salah satu perempatan kampung. Monumen ini, dikenal dengan sebutan ‘kobe ose‘.

Kobe ose ini bukanlah sekadar monumen tanpa makna dan sejarah. Kobe ose itu punya ‘kita bersatu’. Disain bangunan monumen sangat sederhana, hanya berbentuk tumpukan piring yang berjumlah enam dan satu ceret di atasnya. Namun, oleh pembuatnya, dimaksudkan untuk mengingatkan sejarah masa lalu Kampung Saonek kepada generasi sesudahnya.

Enam piring menyimbolkan enam marga pendiri kampung. Marga itu, Marga Mayor, Marga Manam, Marga  Saleo, Marga Rumbewas, Marga Rarbab, dan Marga Mambraku. Dalam hal kepemimpinan sosial kala itu, Marga Mayor dipercaya sebagai pimpinan kampung.

Hal ini erat kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di Biak. Sejauh in penduduk Saonek kesulitan untuk memastikan tahun berapa Islam mulai berkembang di Biak dan kapan pula keenam marga tersebut mulai pindah dan tinggal di Saonek. Namun, yang jelas, merujuk pada penuturan seorang ketua RT yang rumahnya ada di dekat monumen Kobes Ose, Mama Mayor (50-an tahun) mengaku generasi kesembilan.

Saat pindah dan kemudian membangun perkampungan baru di Saonek, keenam marga tersebut akhirnya memeluk agama Islam setelah sebelumnya menerima dakwah tanpa pertumpahan darah dari seorang penyebar agama Islam yang oleh warga setempat dikenal sebagai H Rafana. Tidak semua anggota marga memeluk agama Islam. Mereka yang pada saat itu memilih untuk tidak memeluk Islam, keluar dari Saonek dan tinggal di kawasan yang saat ini menjadi pusatnya Kabupaten Raja Ampat.

Dalam perkembangan berikutnya, mereka akhirnya memeluk agama Protestan dan Katolik. Hingga kini, makam H Rafana masih dirawat baik oleh penduduk Saonek. Bahkan menjadi tujuan para peziarah, meski tak seramai tempat penziarahan umat Islam di Jawa.

Sejarah yang sempat mengalami sedikit konflik terkait hubungan antaragama dan kepercayaan di Biak tersebut, oleh penduduk Saonek tidak direproduksi menjadi alat untuk saling membenci antarpenganut agama. Justru menjadi alat perekat. Para pendatang yang sebagian besar adalah pegawai negeri karena dan beragama Kristen, tetap punya ruang untuk mendirikan gereja.

Sumber: nu.or.id

Komentar Anda

komentar