Saya mah baru sekitar setahun aktif di FLADS,” ungkap Rustana Adhi merendah. Ia lantas menceritakan momen pertemuan Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) yang diikutinya tahun lalu.

Waktu itu saya diajak di pertemuan FLADS yang di kantor PWNU Jabar. Senang sekali ternyata diterima dengan hangat. Tidak seperti di forum lain, yang kalau tahu saya ini dari ahlul bait langsung dipandang curiga,” kenangnya.

Pria yang akrab disapa Adhi ini adalah Ketua DPD Ahlul Bait Indonesia (ABI) di Kota Bandung. Sebagai orang yang terlibat di salah satu organisasi dari kalangan Syi’ah, ia kerap mengalami tindakan diskriminatif. Tuduhan macam-macam baik terkait hal teologis hingga politis sering diterimanya. Banyak forum yang menolak kehadiran komunitasnya.

Adhi bersama rekan-rekannya beberapa kali mengalami gangguan saat menggelar hari besar seperti momen Asyuro atau sejumlah pengajian. Menurutnya ini lebih dikarenakan permasalahan politis, baik di Indonesia maupun secara global.

Menguatnya itu baru sekitar 2015. Sebelum-sebelumnya kita nggak ada masalah. Tapi setelah itu jadi keras sekali. Sampai ada aliansi nasional yang anti Syiah, terus-terusan demo dan menyerang saat kami bikin acara,” paparnya.

Imbas intoleransi itu tak hanya terasa secara organisasi. Pria berusia 60 tahun ini juga mengalaminya secara pribadi. Dulu, di sekolah tempatnya mengajar, ia dipensiunkan dini karena pengurus sekolah tahu identitas teologisnya sebagai seorang Syi’ah.

Kenyang dengan pengalaman yang tak enak itu, Adhi meyakini ini bukanlah hal yang melemahkan iman. Sampai kini, ABI Bandung terus berusaha menjalin silaturahmi dengan semua organisasi dan komunitas keagamaan. Maka, saat ia menemukan forum yang tidak sekedar berbasa-basi dengan kerukunan seperti di FLADS, Adhi mengaku bersemangat untuk terlibat.

Baca juga:  Cerita Pegawai Muslim di Gereja Santo Laurensius Tangsel di Tengah Ramadhan
Rustana Adhi

Kan pesannya Imam Ali itu kita semua bersaudara. Kalau bukan saudara seiman, ya saudara sesama manusia. Jadi, harus hidup saling menghargai dan menjaga perdamaian. Saya senang sekali upaya kami di Bandung ini juga diapresiasi oleh ABI nasional.

Secara nasional organisasinya memang telah merumuskan Manifesto ABI. Di dalamnya ada ikrar terbuka bahwa komunitas Syiah yang terwadahi di ABI mengakui serta mempertahankan NKRI dan Pancasila. Juga seruan agar anggotanya berada di garis terdepan demi menjaga Indonesia yang bhinneka.

Jalannya memang masih panjang. Pemahaman ini perlu terus disuarakan. Biar pemerintah juga bisa melihat bahwa kita bisa rukun dan saling menghargai,” tutup Adhi.

Bagikan

Komentar Anda

komentar