Di Pulau Miangas, perbedaan bukan lagi hal yang tabu dan aneh. Di pulau paling utara di Indonesia ini, keberagaman dan toleransi adalah laku hidup yang tak perlu diglorifikasi.

Setidaknya hal itulah yang disampaikan Sepno Lantaa, Camat Khusus Miangas, kepada detikcom beberapa waktu lalu. Menurutnya, toleransi antar-umat beragama di wilayahnya terjalin dengan baik dan tak pernah menemui permasalahan.

Meski mayoritas penduduk Pulau beragama Kristen Protestan, tak pernah ada perbedaan perlakuan terhadap penduduk yang beragama lain sejak puluhan tahun lalu.

“Banyak saudara-saudara muslim yang datang ke sini ditempatkan baik sebagai aparatur TNI atau Polri justru sudah kawin-mawin dengan saudara-saudara kami yang ada di Pulau Miangas, sehingga secara globalnya kalau masyarakat Miangas adalah masyarakat nasional,” ucap Sepno ditemui beberapa waktu lalu.

Sebagai pulau terdepan, lanjutnya, Miangas juga menunjukkan wajah Indonesia yang sebenarnya. Interaksi yang terjalin antarwarga tak pernah memandang suku, ras, agama, atau golongan tertentu.

“Sehingga rasa toleransi rasa nasionalisme yang ada di Pulau Miangas ini sangat dijaga dan dijunjung tinggi oleh kami warga perbatasan,” jelasnya.

Hal sederhana yang menunjukkan tingginya sikap toleransi warga Miangas salah satunya adalah gotong-royong warga dalam kegiatan keagamaan.

Jika Idul Fitri tiba, warga dengan latar belakang agama Nasrani pun antusias untuk ikut bersih-bersih lingkungan masjid serta menyiapkan makanan.

“Ketika saudara-saudara kami petugas-petugas kami dari TNI atau Polri ketika merayakan hari raya Idul Fitri kami secara bergotong royong satu kampong bahu-membahu mengerahkan tenaga untuk kegiatan Idul Fitri itu,” terangnya.

Begitu juga sebaliknya. Jika Natal tiba, warga muslim di Miangas akan membantu untuk menyiapkan berbagai hal yang dibutuhkan di gereja, serta menjaga keamanan di lingkungan sekitar gereja.

“Saudara-saudara kami dari non-Nasrani atau muslim membantu kami di gereja membangun bersama-sama. Jadi semua membaur menjadi satu dengan tidak melihat perbedaan sehingga saling menjaga rasa solidaritas, persaudaraan, toleransi antara umat beragama,” pungkasnya.

Hal senada dilontarkan oleh Losof Abdurrohim Sensanen, seorang pekerja proyek puskesmas di Miangas. Losof merupakan seorang pendatang dari Desa Mala, Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Pria yang sudah menjadi seorang mualaf sejak menikah pada 1990 ini mengaku sangat senang dengan sikap warga Miangas sangat ramah dan toleran kepada warga pendatang yang beragama muslim.

“Di sini itu toleransinya sangat bagus. Bahkan, saya ketika sedang asyik bekerja, mereka (kawan-kawan beragama Kristen) yang mengingatkan jika sudah masuk waktu salat,” ujarnya saat ditemui detikcom sesaat setelah salat Jumat.

Baginya, tak ada kesulitan dalam beribadah di Pulau Miangas. Ia justru makin giat dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Begitu pun kala datang bulan Ramadan. Losof mengatakan seluruh warga di Miangas sangat menghormati umat muslim yang sedang melaksanakan ibadah puasa.

“Mereka tidak mengganggu sama sekali justru sangat menghormati. Bahkan ketika Idul Fitri mereka membawa bungkusan dari rumah masing-masing untuk dimakan bersama-sama dengan kami di pendopo saat perayaan Idul Fitri,” pungkasnya.

 

Sumber : detik.com

Komentar Anda

komentar