Di lereng selatan Gunung Merapi berdiri kelenteng kecil, Bio Tjioe Bah Petroek. Di sana bertakhta patung Dewi Kwan Im sederhana berwarna putih polos. Kehadirannya mengingatkan siapa pun untuk kembali pada kesahajaan.

Semilir angin malam meniup harum dupa di Bio Tjioe Bah Petroek, sebuah kelenteng kecil di lereng Merapi, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (11/2/2021) malam. Pada malam menjelang tahun baru China atau Imlek 2572 Kongzili itu, persembahan buah-buahan dan kue-kue tertata rapi di meja berundak depan altar.

Di tengah altar terlihat patung Dewi Kwan Im berwarna putih polos. Di bagian kanan dan kirinya terpasang papan kayu bertuliskan huruf China. Tulisan kanan kira-kira artinya demikian: ”Sebelum kamu masuk ke tempat ibadat ini, apakah kamu sudah berbuat baik?”. Semntara tulisan di sebelah kiri berbunyi: ”Nanti kalau kamu di liang kubur, bahkan logam (keping uang) pun tidak bisa kamu lihat. Yang akan dilihat hanyalah kebaikan, bukan keping uang”.

Patung putih Dewi Kwan Im di Bio Tjioe Bah Petroek didatangkan dari kelenteng tua Tien Kok Sie di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, tahun 2017 lalu. ”Pengelola kelenteng Pasar Gede menawari kami untuk memilih satu dari  dua patung Dewi Kwan Im. Satunya  berornamen warna-warni dengan paras yang sangat cantik dan satunya berwarna putih polos dengan  wajah sangat sederhana. Spontan, kami pun langsung tertarik dengan patung Dewi Kwan Im cantik yang memiliki ornamen indah sekali,” kata Agustinus Antok, Manajer Omah Petroek, tempat di mana Bio Tjioe Bah Petroek didirikan bersama beberapa tempat ibadah lainnya.

Akan tetapi, begitu menjalani prosesi pelemparan poapoe (dua potongan kayu berbentuk seperti hati) untuk meminta izin supaya patung indah itu bisa dibawa ke Yogyakarta, mereka selalu gagal. ”Kami berulang kali berdoa dan meminta restu agar patung ini bisa dipasang di Bio Tjioe Bah Petroek. Namun, begitu melempar poapoe, berkali-kali keduanya tertelungkup atau telentang. Artinya, kami tidak direstui untuk membawa patung itu,” ujarnya.

Baca juga:  Terorisme: Musuh Agama, Kemanusiaan dan Kehidupan!

Antok bersama rombongan Omah Petroek sampai tiga kali datang ke Solo untuk minta izin memboyong patung Dewi Kwan Im indah itu ke lereng Merapi. Namun, meski tiga kali bolak-balik Yogyakarta-Solo, mereka selalu gagal.

Akhirnya, pengelola kelenteng menawarkan lagi patung Dewi Kwan Im sederhana berwarna putih polos. Hanya dengan sekali dilemparkan, bilah poapoe jatuh dengan posisi satu telentang dan satu tertelungkup. Artinya, permohonan mereka langsung disetujui dan patung putih itu boleh mereka boyong.

Menyadari nafsu
Dalam perayaan sederhana menyambut Imlek, Pimpinan Omah Petroek Romo Sindhunata SJ mencoba memaknai peristiwa unik itu. Menurut dia, datangnya patung Dewi Kwan Im sederhana di Bio Tjioe Bah Petroek menjadi pengingat bagi siapa pun untuk kembali pada yang pokok dan melepaskan segala macam keinginan serta ambisi.

Hati-hati dengan segala cita-cita akan kebesaran, kemuliaan, dan sebagainya. Bisa jadi itu merupakan nafsu yang tidak kita sadari. Dan akhirnya, begitu kita mendapatkan yang sederhana, ternyata justru itulah yang pas bagi kita.

”Hati-hati dengan segala cita-cita akan kebesaran, kemuliaan, dan sebagainya. Bisa jadi itu merupakan nafsu yang tidak kita sadari. Dan akhirnya, begitu kita mendapatkan yang sederhana, ternyata justru itulah yang pas bagi kita,” ujarnya.

Kehadiran patung Dewi Kwan Im sederhana itu pas dengan suasana Bio Tjioe Bah Petroek yang kecil dan bersahaja. Selain dibangun kelenteng, di Omah Petroek juga didirikan beragam tempat ibadah lain, seperti kapel, pura, dan langgar.

Imlek di Tahun Kerbau Logam 2021 juga mengajak siapa pun untuk bersabar menghadapi pandemi Covid-19. ”Kerbau dalam legendanya sungguh-sungguh menjadi penolong manusia, menjadi lambang kesabaran. Kerbau setiap hari bekerja membajak bersama petani dan tidak menuntut apa-apa. Ini simbol bagi kita agar pada masa yang berat ini kita mesti tetap bekerja, rajin, dan sabar,” kata Sindhunata.

Baca juga:  Yerusalem Situs Suci Tiga Agama

Sosiolog Jerman, Hartmut Rosa, mengatakan,  pandemi benar-benar mengerem kecepatan dunia yang selama ini sulit dikendalikan. Dan, secara kebetulan Tahun Kerbau Logam ini juga membawa pesan kepada dunia untuk sabar, teguh, dan telaten.

Sumber: Kompas.id

Bagikan

Komentar Anda

komentar