Sejatinya setiap tahun, Kota Malang merayakan hari jadi pada 1 April. Tapi pada peringatan ke-104 tahun ini, ada yang berbeda. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang lebih memilih menunda perayaan hari jadi kota apel tersebut. Pertimbangan dasarnya, untuk merawat tradisi toleransi yang sudah berlangsung turun-temurun.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang Wasto mengungkapkan, penundaan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT)  Ke-104 Kota Malang tersebut karena pada 1 April, bertepatan dengan hari Minggu Paskah. “Jadi, sebagai bentuk toleransi dalam rangka Paskah, rangkaian kegiatan perayaan hari jadi ini diundur, tidak pas tanggal 1 April,” ujar Wasto.

Wasto mengurai, kegiatan yang dilangsungkan Pemkot Malang relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari rapat paripurna istimewa, upacara hari jadi, dan juga gelaran doa bersama. “Karena diundur, upacaranya baru dilaksanakan hari Selasa (3/4) karena Senin itu ada Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Malang,” ujarnya.

Selain itu, Senin malam juga bakal digelar acara doa bersama. Doa bersama itu, lanjut Wasto, dikhususkan agar Kota Malang terus terjaga dari berbagai ancaman baik dari luar maupu dari dalam. Terlebih memasuki tahun politik, doa bersama juga dipanjatkan agar situasi Kota Malang tetap kondusif.

Kami juga berupaya merawat tradisi toleransi yang sudah turun-temurun. Di Kota Malang ini, semua umat beragama dapat hidup berdampingan dengan damai,” terangnya. Wasto kemudian menceritakan salah satu simbol kerukunan antar umat beragama dan tradisi toleransi itu yakni keberadaan Masjid Agung Jamik Kota Malang yang berdiri berdampingan dengan Gereja GPIB Immanuel di sisi barat Alun-Alun Kota Malang.

Wasto menegaskan, kebijakan Pemkot Malang tersebut juga akan berlaku jika pada saat HUT Kota Malang bertepatan dengan perayaan keagamaan lain. “Kalau keagamaan yang lain juga akan ditunda, karena kan menghargai dan toleransi antar umat beragama. Biar mereka juga melaksanakan ibadahnya dengan khusuk. Sejauh itu agama yang diakui negara tentu akan kami sikapi yang sama,” paparnya.

Sementara itu rangkaian perayaan Paskah berlangsung kondusif di kota Malang. Selain dijaga oleh sejumlah personil polisi, PC GP Ansor Kota Malang mengerahkan 100 anggota Bansernya untuk ikut membantu menjaga perayaan Paskah.

Kasubbag Humas Polres Malang Kota Ipda Ni Made Seruni Marhaeni mengapresiasi gerakan PC GP Ansor yang membantu mengamankan jalannya Paskah. Kata Marhaeni, GP Ansor selalu aktif dalam upaya gerakan perdamaian dan kerukunan. “Iya, GP Ansor selalu aktif ikut. Tahun-tahun sebelumnya juga ikut,” paparnya.

Keikutsertaan ini memang menjadi ikrar setia GP Ansor untuk menjaga Indonesia. Ketua PC GP Ansor kota Malang, M Nur Junaedi Amin, menjelaskan, Indonesia adalah negara yang majemuk, maka menjaga keutuhan bangsa menjadi tanggung jawab bersama. “Ini bentuk wujud dari sikap moderasi yang diambil banom NU. Karena sampai kapan pun NU beserta banomnya terutama Ansor Banser akan tetap merawat kebhinekaan di negeri ini,” tegas Nur Junaedi.

Sumber: malangtimes.com; tribunews.com

Komentar Anda

komentar