Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tahta Suci Vatikan telah menggelar dialog antar agama masyarakat Indonesia di Eropa. Dalam dialog yang dihadiri 48 warga Indonesia dari 23 negara Eropa tersebut dilahirkan rumusan Deklarasi Roma. Rumusan ini dibacakan para peserta pada bagian akhir dialog.

Dubes RI untuk Tahta Suci Vatican, Agus Sriyanto, Sekjen Kemenag Nur Syam dan sejumlah narasumber lainnya dari Indonesia turut hadir dalam dialog dan pembacaan deklarasi tersebut. Deklarasi Roma itu sendiri berisi delapan poin pernyataan terkait pentingnya menjaga persaudaraan dan terus memajukan kebersamaan dan kerukunan bangsa Indonesia.

Nur Syam mengapresiasi kegiatan dialog yang digelar Kedubes Tahta Suci Vatikan. “Program ini saya kira akan bisa dilakukan di beberapa belahan dunia lainnya, misalnya di Amerika, Australia, Afrika dan di tempat lain. Dengan mengusung semangat kerukunan dan keharmonisan, maka pesan itu akan dapat disampaikan kepada masyarakat Indonesia yang sedang menjalani kehidupan di luar negeri atau kaum diaspora,” terang Nur Syam di Vatikan, Minggu (1/7).

Nur Syam berharap, dialog antar agama tidak hanya berada dalam tataran “dialog butik”, yaitu dialog yang hanya menampilkan wajah depannya saja seperti pajangan produk di dalam butik. Untuk itu, perlu diupayakan agar dialog itu bisa menyentuh wilayah masalah mendasar yang dirasakan bersama.

Dari wilayah teologi dan ritual sudah selesai. Yang sama jangan dibedakan dan yang beda jangan disamakan, akan tetapi di dalam wilayah yang memiliki cakupan kebersamaan lainnya perlu mendapatkan perhatian. Makanya, dirasakan perlu ada Focus Group Discussion untuk memetakan masalah bersama dan menyelesaikan bersama,” lanjutnya.

Nur Syam menambahkan, tujuan dialog antaragama ialah membangun kesepahaman, kebersamaan dan kerjasama di antara umat beragama. Oleh karena itu diperlukan tidak hanya co-eksistensi akan tetapi juga pro-eksistensi. Tidak hanya sekedar mengakui ada yang berbeda dalam agama, tetapi juga bekerja sama antar umat beragama. Memperkuat “kita” dan bukan “aku.”

Tujuan final dari kerukunan umat beragama ialah untuk menjamin keberlangsungan consensus bangsa, yaitu: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kebhinekaan. Makanya diperlukan upaya terus menerus untuk merevitalisasi consensus kebangsaan tersebut di dalam kehidupan nyata, yang sehari-hari, agar ke depan masyarakat Indonesia yang adil dalam kemakmuran dan makmur di dalam keadilan akan dapat diraih secara memadai,” tandasnya.

Sumber: kemenag

Komentar Anda

komentar