Presiden Joko Widodo mengajak alumni Al-Azhar untuk bersama-sama dengan pemerintah menyebarkan nilai-nilai moderasi Islam dan toleransi melalui cara yang sesuai dan mudah diterima oleh generasi muda Indonesia.

Saya kira ke depan metode-metode dengan menggunakan dakwah di media sosial akan sangat efektif terutama untuk generasi milenial, anak muda, yang mau tidak mau kita rangkul dengan dakwah-dakwah yang kita sampaikan,” ujarnya seperti dikutip dalam rilis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Apalagi di negara besar seperti Indonesia, yang memiliki anugerah keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya, moderasi dan toleransi sangat penting diterapkan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara di Tanah Air.

Saya mendukung sekali tema muktamar konferensi kali ini yaitu mengenai moderasi Islam dan toleransi Islam,” kata Jokowi saat menghadiri penutupan Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional IV Alumni Al Azhar Indonesia di Aula Utama Gedung Islamic Center, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Olehnya itu, Jokowi tak lupa meminta alumni Al Azhar untuk tidak lengah dan ikut mengawasi aktivitas media sosial. Mengingat perubahan dunia dan perkembangan teknologi yang cepat tanpa pengawasan akan mempengaruhi karakter anak bangsa di masa mendatang.

Pertanyaan saya, siapa yang menyaring? Siapa yang membuat screening bahwa yang disampaikan itu benar bukan pendapat pribadi bukan tafsir pribadi? Karena sekarang ini banyak sekali saya lihat ada fenomena yang gampang sekali mengkafirkan orang,” pungkasnya.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara tersebut adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Gubernur Nusa Tenggara Barat M Zainul Majdi.

Konferensi dan Multaqa ini berlangsung 3 hari. Mulai tanggal 18-20 Oktober 2017. Selama kegiatan tersebut dibahas tiga isu utama yang saat ini sedang dialami oleh masyarakat muslim di dunia. Pertama, membahas batasan antara keislaman dan kekufuran. Kedua, tentang fatwa-fatwa yang akhir-akhir ini semakin tidak memiliki pedoman. Apalagi di era informasi dan teknologi saat ini, termahal media sosial. Sehingga, fatwa yang beredar di media sosial saat ini menimbulkan kekacauan penafsiran dan membingungkan umat. Isu yang ketiga adalah metode dakwah kontemporer.

Sumber: news.okezone.com

Komentar Anda

komentar