Hari Raya Idul Fitri menjadi satu perayaan yang paling ditunggu umat Islam setelah satu bulan berpuasa.

Cerita momen perayaan Lebaran di Indonesia identik dengan silaturahmi berkunjung ke rumah tetangga, keluarga besar, atau rekan. Lalu bagaimana cerita Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini merayakan Lebaran di luar negeri?

Cerita menarik datang dari Eko Yudha Fitnawan, WNI di Stavanger, Norwegia.

Momen Lebaran kali ini benar-benar disyukuri karena ia bersama keluarga dapat tetap melakukan halalbihalal Idul Fitri ke teman-teman sesama WNI, meski masih dalam suasana Covid-19.

Hal ini tak lepas karena tren jumlah terinfeksi kasus per hari di Norwegia semakin menurun. Oleh sebab itu, pemerintah mulai memberikan sedikit kelonggaran.

“Alhamdulillah, jadinya kemarin kita bisa halalbihalal Idul Fitri dengan berkunjung atau silaturahmi ke teman-teman sesama WNI dengan saling mengatur jadwal kunjungan agar tidak berkumpul lebih dari 20 orang dalam satu waktu,” kata Eko saat dihubungi Kompas.com, Senin (25/5/2020).

Dapat berkumpul dengan tetep menaati aturan pemerintah setempat
Eko menjelaskan, pemerintah Norwegia memberikan beberapa kelonggaran seperti perkumpulan atau organisasi resmi boleh menyelenggarakan acara yang mengumpulkan orang hingga maksimal 50 orang. Dengan catatan, semua orang harus sudah terdaftar terlebih dulu.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menjaga kehati-hatian dan selalu jaga jarak minimal satu meter.

“Jadi klub-klub sepak bola, dan olahraga lainnya sudah mulai latihan. Gereja, masjid, salon dan restoran sudah mulai buka asal tetap menjaga protokol kesehatan tersebut,” tuturnya.

Sementara itu, untuk perorangan, pemerintah telah memberikan pelonggaran dengan mengizinkan maksimal 20 orang berkumpul. Dengan catatan, tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Ia pun membagikan beberapa foto momen halalbihalal Idul Fitri di rumah salah satu keluarga WNI di Norwegia, Indra Fajri.

“Setiap cluster keluarga harus disiplin menjaga jarak. Berikut ini beberapa foto acara halalbihalal kemarin,” terang Eko.

Hal ini seakan menjawab keraguan Eko sebelumnya bahwa tak bisa melakukan halalbihalal dengan sesama WNI di Norwegia.

Lebaran berbeda dari tahun sebelumnya
Meski begitu, ia mengakui bahwa perayaan Idul Fitri kali ini sangat jauh berbeda, khususnya hal yang ia rasakan sebagai WNI.

Biasanya, kata dia, semua WNI akan menyewa gelanggang olahraga di Kota Sola, Norwegia untuk menampung lebih dari 100 orang termasuk para mahasiswa Indonesia, pada perayaan halalbihalal Idul Fitri.

Sementara perayaan shalat Idul Fitri juga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Saya shalat Ied di rumah, habis itu sungkeman keluarga,” katanya.

“Tahun-tahun sebelumnya pihak masjid pernah menyelenggarakan shalat Ied di lapangan terbuka. Namun seringkali cuaca kurang mendukung jadi lebih sering di gelanggang olahraga,” tambahnya.

Idul Fitri di Norwegia
Tak ketinggalan menyantap kuliner Indonesia
Kendati hidup di luar negeri, WNI di Norwegia tetap tak lupa akan masakan Indonesia. Khususnya yang biasa disantap pada momen Lebaran.

Eko mengatakan, pada saat halalbihalal, WNI selalu menyiapkan masakan khas Indonesia di antaranya mi bakso, lontong opor ayam, gepuk, sop ikan, telur balado, sambal goreng ati, cendol, es teler, martabak, dan lainnya.

“Jarang sekali di sini kami menyajikan makanan Norwegia untuk acara Idul Fitri. Kurang cocok juga, tapi biasanya untuk anak-anak disediakan kue atau jajanan yang biasa mereka dapat di Norwegia,”¬†ujarnya.

Pada Idul Fitri, anak-anak WNI di Indonesia akan berburu brownies, muffin, dan aneka permen ketika berkunjung dari rumah ke rumah.

Sumber: kompas

Komentar Anda

komentar