Assalamualaikum,” sapa seorang dari balik pintu. Dia adalah orang yang dikenal sebagai Pak Langitan, seorang yang beretnis Minahasa dan beragama Katolik. Pak Langitan adalah tetangga sekaligus teman Kiai Kholil berolahraga pagi.

Walaikum salam,” jawab Kiai Kholil. Ajengan di wilayah Cigadung itu sekilas melirik anaknya, Maftuh. Sang anak agak heran, melihat ayahnya menjawab salam seorang Non-Muslim. Maftuh kecil waktu itu bertanya mengapa, sang ayah hanya berkata lirih sembari menuju pintu.

“Yah, gali lagi aja lah…”

**
Momen puluhan tahun silam itu begitu membekas dalam diri Kiai Maftuh Kholil. Apa yang diteladankan ayahnya dalam menerima realitas keberagaman, akhirnya semakin berkembang setelah Kiai Maftuh lebih lanjut menggali keilmuan Islam. Perkenalan dan sejumlah diskusinya dengan alm. Gus Dur juga kian memantapkan sudut pandang Islam yang menjunjung tinggi toleransi dan menghargai perbedaan.

Meski tak pernah menahbiskan diri sebagai tokoh keberagaman, namun kiprah Kiai Maftuh dalam mendorong gerakan toleransi dan kerukunan amat jelas terlihat. Secara khusus di Kota Bandung, orang tentu mengingat momen di Natal tahun 2006. Saat itu Ketua Tandfidz PCNU Kota Bandung ini bersama anak-anak muda NU memberikan mawar sebagai simbol persahabatan dan ucapan selamat Natal kepada gereja-gereja di Bandung.

Meski mengalami sejumlah tentangan, namun Kiai Maftuh bersama rekan-rekan muda terus mengerjakan. Apalagi Rais Syuriah PCNU Bandung waktu itu (alm. KH. Imam Sonhaji) benar-benar mendukung dan dengan lugas menyatakan dalil untuk membela dan mempertahankan keberagaman.

Kebersamaan di Natal 2006 itu akhirnya menjadi rintisan tokoh-tokoh agama di Kota Bandung bisa saling bersilaturahmi. Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) akhirnya juga terbentuk karena kebersamaan yang telah ada sejak momen itu.

Waktu itu ada kecenderungan kalau Jawa Barat akan semakin rawan intoleransi. Kami tidak ingin Bandung nanti jadi sama seperti Ambon dan Poso, yang telah porak-poranda karena isu keagamaan yang ditunggangi kepentingan lain,” kenang Wakil Ketua MUI Kota Bandung ini menceritakan ulang upaya yang mereka rintis sebelas tahun lalu.

Kakek tiga cucu ini juga meyakini, meski hanya kecil, namun kekuatan gerakan masyarakat dalam mensosialisasikan keberagaman perlu terus dikerjakan. Masyarakat kita sebenarnya bisa melihat dalam perspektif kemanusiaan, sehingga tidak mempermasalahkan keyakinan yang berbeda.

Saya sering merenung saat melihat rekan saya, Pdt. Albertus Patty. Saya lantas bertanya, apa salahnya kalau saya ini Kiai? Apa salahnya kalau Pak Patty pendeta? Secara kemanusiaan tidak ada yang salah. Apalagi kita warga sebangsa dan sekota,” pengasuh Pondok Pesantren al-Ikhwan ini terus menyajikan refleksi.

Tidak bertanggung jawabnya sebagian orang yang menunggangi agama dengan isu ekonomi-politis adalah hal yang amat disesalkan oleh pria kelahiran 11 Desember 1958 ini. Menurutnya di Indonesia tidak ada konflik dan kerusuhan yang semata-mata karena perkara agama. Bangsa kita sedari dulu sudah terbiasa dengan keberagaman.

Ambon, Poso, Madura, bahkan perselisihan yang sekarang marak di Pilkada DKI itu semua ditunggangi kepentingan,” papar sosok yang juga menjabat sebagai ketua Badan Hisab dan Rukyat Kota Bandung ini. Secara khusus ia mengomentari soal tafsir Surah Al-Maidah yang katanya banyak dipersoalkan di Jakarta.

Saya di pengajian sejak lama mengkaji secara rutin tafsiran ayat Quran. Tiap bulan, satu surah. Waktu ribut-ribut di Jakarta, kajian kami sudah sampai Surah Al-An’am (surah ke-enam, setelah Al-Maidah). Beragam tafsir dari kata ‘auliyah’ (bentuk jamak dari ‘wali’) itu sudah kami bahas dengan saksama. Tanpa gejolak, bahkan memikirkan secara kritis. Namun sekarang orang hanya bermodal satu-satunya terjemahan, bisa langsung marah dan menyalahkan yang lain… Jadi benar, isu agama memang sangat seksi dipakai sebagai alat,” tambahnya.

Kiai Maftuh menutup ceritanya di Selasa Siang (21/3) itu dengan mengajak umat Islam meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Punya kebesaran hati, membalas perbuatan buruk dengan akhlak mulia. Ia juga berpesan pada seluruh umat beragama agar tidak kenal lelah mensosialisasikan dan mengamalkan sikap hidup yang rukun dan menghargai perbedaan. **arms

Komentar Anda

komentar