Dalam sebuah diskusi Ayu Kartika Dewi, co-founder SabangMerauke pernah bertanya pada tokoh-tokoh agama di Indonesia, terkait cara-cara sederhana menanamkan toleransi dalam keluarga, sejak usia dini. Tepatnya Ayu bertanya: Bagaimana caranya mengajarkan toleransi beragama kepada adik, kakak atau saudara di rumah tanpa menghakimi bahwa agama yang lain itu salah?

Para tokoh agama yang ditanya Ayu adalah, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jakarta Pusat, I Wayan Kantun Mandara, Penasihat Sinode Jemaat Kristen Indonesia (JKI), Pdt. Jose Carol, Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI) Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja, Wakil Direktur Pusat Studi Al Qur’an, Muchlis M. Hanafi, Sekretaris Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Peter Lesmana dan rohaniwan Katolik yang kini menjadi Penasihat di Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Romo Antonius Benny Susetyo Pr.

Berikut poin-poin jawaban mereka:

  1. Menjadi Teladan

Ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk membimbing anak tentang toleransi yaitu keteladanan, mengendalikan keinginan diri sendiri, dan memperbaiki kesalahan. Tetapi yang paling penting adalah memberikan teladan.

Bicara masalah keteladanan itu adalah yang paling penting, memang itu nomor satu. Artinya bagaimana kita bisa mengajarkan kepada anak-anak kita mengenai toleransi kalau kitanya sendiri tidak memberikan contoh, tidak memberikan teladan toleransi itu seperti apa,’’ kata Peter Lesmana.

  1. Baik di Dalam Keluarga

Sebagai orang tua yang mengajarkan agar anak tidak menolak terhadap agama lain atau menjadi antipati, maka orang tua terlebih dahulu harus baik di dalam keluarga. Karena orang tua menjadi panutan atau ikon dalam kehidupan sehari-hari di keluarga yang mereka lihat.

Wayan Mandara mengatakan bahwa ketika seorang anak baik di rumah, maka saat ia keluar rumah ia menjadi baik saat berinteraksi dengan sesama.

Pertama-tama orang tua itu harus baik dulu di dalam keluarga. Menjadi seorang ayah yang panutan, ikon, simbol. Simbol kebaikan keseluruhan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan merasakan bahwa nilai-nilai kebaikan dari orang tuanya sendiri bahwa itu baik, maka otomatis anak itu mau tidak mau, yang melihat panutan atau ikon yang baik itu pasti melakukan yang baik,’’ katanya.

  1. Saling Melindungi

Di alam semesta ini antarumat manusia tak cukup hanya toleransi saja, karena kita semua saling membutuhkan seperti simbiosis mutualisme. Menurut Maha Pandita Suhandi Sendjaja, dalam agama Buddha diajarkan, “Kehadiranku ada kamu, dalam diriku ada dirimu, tanpa kamu tidak ada saya”. Oleh karena itu baik orang tua maupun anak-anak harus benar-benar menghayati agama yang diyakini dan mempratekannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam keluarga, dan masyarakat kita harus saling melindungi,” ujarnya.

  1. Tak Kenal Maka Tak Sayang

Orang tua dapat mengajarkan kepada anaknya untuk dapat menerima perbedaaan melalui teori di Indonesia yang sudah kita kenal, yakni “tak kenal maka tak sayang”. Tidak mungkin kita bisa sayang, kalau tidak mengenal. Karena semakin kita tidak saling mengenal satu dengan yang lain, maka semakin kuat tembok pemisah atau sekat yang dibangun, sehingga kebencian itu sulit dihancurkan.

Yang bahaya adalah asumsi ketika kita tidak mengenal. Ketika kita tidak mengenal, maka kita berasumsi yang lain-laian. Ketika kita saling mengenal, walaupun mencoba asumsikan atau mau digosipkan atau mau difitnahkan, akan sulit masuknya benih-benih kebencian itu. Oleh karena itu kuncinya adalah kenal. Semakin kita mengenal semakin kita sayang terhadap sesama,’’ ucap Pdt. Jose Carol.

  1. Rayakan Perbedaan

Untuk mengajarkan perbedaan kepada anak-anak, Muchlis M. Hanafi menceritakan pengalaman hidupnya bahwa ia memperkenalkan kepada anak-anak pesantren untuk berkunjung ke masjid yang lain supaya mereka saling mengenal mahzab tata ibadah di Islam agar mereka saling menghormati.

Muchlis mempercayai bahwa semua manusia yang hidup satu udara dengan kita, maka ia adalah saudara kita.

Kita harus hidup tenggang rasa, belas kasih, kita harus bisa hidup harmoni. Bahwa perbedaan itu sesungguhnya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, perbedaaan itu adalah suatu yang harus kita rayakan bersama,’’ kata Muchlis.

  1. Tidak Ada yang Salah Dalam Perbedaan

Menurut Romo Antonius Benny Susetyo Pr, mengungkapkan bahwa perbedaan itu adalah hal yang wajar, dan tak ada yang salah dalam perbedaan. Karena sejak dulu, kita memang sudah hidup dalam perbedaaan. Hanya saja, perbedaan itu tidak dikumandangkan.

Jadi anak-anak harus diajarkan bahwa perbedaan itu wajar dan tidak ada yang salah. Wong, sejak kecil aja saya main di masjid enggak ada masalah, kok. Makanya pendidikan kita itu harus mengajarkan toleransi,’’ ucap Romo Benny.

Sumber: rappler.com

Komentar Anda

komentar