Agama menjadi faktor yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Namun, yang sangat menentukan masa depan bangsa kita, adalah bagaimana cara warga negaranya beragama. Cara bergama yang toleran, damai, elegan, bermartabat, dan berkemajuan akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang patut menjadi contoh di antara negara-negara lain yang berpenduduk Muslim.

Bahasan itu menjadi simpulan ‘Halaqoh Kebangsaan Menuju Indonesia Berkemajuan’, Rabu – Jumat (21-23/11) di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan UMY.

Halaqah kebangsaan tersebut menghadirkan pembicara Menkopolhukam Jenderal Purn Wiranto, Rektor UMY Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta Prof Dr Abdul Munir Mulkhan, dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang diwakili Asisten Perencanaan dan Anggaran Irjen Pol Dr. Gatot Eddy Pramono, MSi.

Prof. Abdul Munir Mulkhan menekankan, cara beragama yang toleran perlu dikembangkan karena Indonesia merupakan negara dengan tingkat keberagaman yang tinggi termasuk dalam hal beragama. “Yang menentukan kita masuk surga atau tidak bukan agama, tapi bagaimana cara beragama kita,” tegasnya.

Menurut Prof. Munir, dalam beragama, umat Islam di Indonesia harus toleran dan inklusif baik dalam pemikiran maupun tindakan. Ia mencontohkan, Muhammadiyah, meskipun dikenal sebagai organisasi Islam, tapi dalam menjalankan amal usahanya di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial sangat terbuka, tidak membeda-bedakan suku, agama, ras maupun golongan. Siapa pun boleh masuk sekolah-sekolah Muhammadiyah. Pendidikan Muhammadiyah tidak akan mengubah agama siapa pun yang menimba ilmu di lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Selain toleran, yang harus dikembangkan adalah cara beragama yang damai. Umat Islam harus menonjolkan sisi kedamaian agamanya karena Islam itu sendiri artinya damai. Islam diturunkan untuk membawa rahmat, bukan laknat. Islam juga hadir untuk menjaga perdamaian dan keharmonisan, bukan permusuhan. Berpeda pendapat boleh saja, berbeda pilihan politik silahkan, tapi jangan perbedaan itu membuat kita terpecah-pecah. Umat Islam Indonesia harus menampilkan Islam yang elegan, bermartabat, dan berkemajuan.

Umumnya pembicara merisaukan tentang kondisi Indonesia saat ini, terutama dalam menghadapi tahun politik yang mudah sekali membuat berselisih disebabkan karena perbedaan pilihan politik, terutama di sosial media.

Dalam menyikapi perbedaan ini, agama juga ikut dibawa-bawa, seolah-olah kalau memilih capres bisa menentukan seseorang masuk surga atau tidak. “Padahal tidak ada hubungannya,” tandas Munir. Tapi, menurutnya, kalau kita salah memilih pemimpin nasional, mungkin saja Indonesia akan terpecah-pecah. “Jadi memilih pemimpin nasional yang tepat juga penting sebagai bagian dari upaya menjaga keutuhan bangsa.

Irjen Pol Gatot Eddy Pramono, mengatakan bahwa ada banyak sekali faktor-faktor yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangasa Indonesia, ada faktor internal dan eksternal. Persoalan-persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan cara mengidentifikasi tidak hanya persamaan-persamaan dalam masyarakat melainkan juga perbedaan-perbedaan. Lalu dari hasil identifikasi tersebut harus lebih banyak ditonjolkan persamaannya.

Untuk tetap menjaga keutuhan Indonesia sebagai bangsa besar yang majemuk, selain harus memilih pemimpin nasional yang tepat seperti disampaikan Munir Mulkhan, Wiranto meminta semua pihak, terutama mahasiswa, untuk menjaga persatuan dan kesatuan yang menjadi sumber kedaulatan dan kemerdekaan.

Menurut Wiranto, persatuan tidak lahir sendiri di masyarakat, melainkan lewat perencanaan dan harus diperhitungkan dengan baik. Hal inilah yang ditempuh oleh para pendiri bangsa. Menko Polhukam menjelaskan, tiga kunci menjaga persatuan.“Pertama kesadaran untuk bersatu. Kedua, harus ada pengorbanan untuk mencapai kesatuan. Terakhir, terus menghadirkan sikap toleransi terhadap semua perbedaan,” katanya.

Sumber: harianjogja.com

Komentar Anda

komentar