Pemberitaan terkait survei akhir tahun 2016 International NGO Forum on Indonesia Development (INFID) dan Jaringan Gusdurian Indonesia terlihat cukup beragam.

Hasil survei yang sempat disosialisasikan salah satunya dalam seminar bertajuk “Surabaya Outlook 2017: Menolak Intoleransi, Melawan Radikalisme” di Kampus Universitas Airlangga (16/1) itu memang memberi gambaran umum tentang pandangan kaum muda Indonesia terkait toleransi dan radikalisme.

Meski ada kecenderungan penurunan toleransi di kalangan anak muda, tetapi mayoritas anak muda (88,2%) masih tidak menyukai tindakan radikal dan ekstrim berbasis agama. Di sisi yang lain, nilai-nilai kebhinnekaan masih menjadi faktor utama (55,6%) yang membuat anak muda bangga akan Indonesia dan pemersatu generasi muda,” papar Alissa Wahid sebagaimana dikutip Tribunnews Surabaya.

Koordinator Jaringan Gusdurian Indonesia itu memaparkan bahwa survei yang menjaring 1.200 kaum muda dari enam kota ini memang bertujuan untuk menemukan wajah beragama di kalangan muda. Secara khusus juga meninjau narasi utama ekstremisme, memahami pesan-pesan kunci ekstremisme, dan mengetahui pola penyebaran pesan ekstremisme di kalangan muda melalui pemetaan pemberitaan, internet maupun media sosial.

Selain mengulik pemahaman tentang toleransi dan radikalisme, survei juga meninjau kebiasaan keseharian pemuda dalam memperoleh dan mencerna informasi.

Seperti jamak diperkirakan, portal berita internet dan media sosial menjadi saluran informasi yang paling banyak diakses kaum muda selain televisi. Amat sedikit yang menjadikan koran maupun radio sebagai sumber informasi utama keseharian. Tentu ini merupakan imbas semakin menurunnya kefasihan atensi dan literasi, yang memang terjadi di kaum muda sedunia.

Sayangnya terbilang sedikit pihak yang menyorot sisi lain yang ditampilkan survei. Yaitu terkait tokoh panutan dan keterlibatan dalam organisasi keagamaan.

Saat ditanya tentang tokoh Islam yang menjadi idola, jawaban kaum muda amat beragam, demikian pula dengan tokoh muda Indonesia dan tokoh muda Islam. Lebih unik lagi dari antara tokoh-tokoh yang diidolai, umumnya adalah tokoh-tokoh yang banyak tampil di layar kaca. Kemungkinan besar ketertarikan kaum muda memang lebih mengarah pada emotional-performance, bukan dari pendalaman literasi atas tokoh tersebut.

Sementara terkait keterlibatan di organisasi keagamaan, umumnya kaum muda tidak terlibat aktif dalam organisasi agama.

Jika diperhatikan, ini sebenarnya tantangan serius. Sekarang kita akan semakin jarang mendapati generasi muda yang mengagumi tokoh karena mempelajari pemikiran dan kiprahnya. Juga semakin jarang kaum muda yang aktif ditempa dalam disiplin organisasi keagamaan.  Cair, dekat secara emosional, serta menyebar secara massif di saluran yang juga cair, kini adalah ciri yang menyelubungi akses pemuda kita akan informasi, termasuk informasi terkait agama.

Maka di kampus, kelompok kecil semacam halaqah di Islam atau komsel di persekutuan Protestan adalah bentuk yang lebih disukai, terlepas dari kontennya yang pro atau kontra terhadap toleransi. Di media dakwah, gaya gaul para ustad-ustadzah atau khotbah motivasi-sensasional ala pendeta kontemporer adalah trend yang semakin digandrungi. Para tokoh-tokoh tradisional pun seolah dipaksa harus mengikuti, jika tidak ingin ditinggalkan umat.

Meski punya potensi kreatif, kecairan ini sebenarnya bisa menelurkan masalah dalam kewaspadaan akan intoleransi dan radikalisme. Intoleransi dan radikalisme bisa menyebar dengan sangat cair, namun meresap dalam hidup kaum muda.

Seorang anak muda kini bisa saja jadi fans artis dan bergaya seperti anak gaul zamannya, namun dalam pemahaman keagamaan justru menganut radikalisme dan intoleransi. Berbeda dengan kelompok radikalis agama era 1990-2000-an yang cenderung mudah dikenali dan terorganisir dalam kelompok eksklusif.

Ini tentunya tantangan besar bagi organisasi keagamaan dan pendidikan. Di balik cairnya gaya dan medium informasi kaum muda kini, terselip bahaya cairnya radikalisme dan intoleransi. Semakin menurunnya kefasihanan atensi dan literasi, tentu semakin menyuburkannya. **am

Komentar Anda

komentar