Terimakasih Buya!

Ungkapan itu muncul dari warga pengguna internet Indonesia sekaligus juga umat di Paroki Santa Lidwina, Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta. Tak lama selepas berita tentang penyerangan saat misa Minggu pagi (11/2) di gereja tersebut, mantan ketua PP Muhammadiyah, Muhammadiyah Syafii Maarif langsung mengunjungi. Kebetulan jarak gereja tersebut tidak terlalu jauh dari kediaman pria yang akrab disapa Buya Syafii ini.

Sangat menyesalkan. Ini sangat melukai Indonesia,” ujar Syafii Maarif saat berada di gereja Santa Lidwina. Syafii menegaskan penyerangan ini merupakan aksi yang biadab. Syafii meminta Polisi untuk mengusut tuntas aksi penyerangan ini.

Ini biadab. Ini harus dicari betul siapa sebenarnya orang ini, saya percaya Polisi bisa bergerak cepat mengungkap ini,” ungkapnya. Dia mengungkapkan selama ini Yogyakarta dalam kondisi aman. Aksi penyerangan ini, lanjutnya, mungkin saja untuk menciptakan suasana Yogyakarta tidak aman.

Sepertinya dia tidak sendiri, mungkin ada gengnya. Mungkin untuk membuat gaduh Yogyakarta yang selama ini aman,” urainya.

Sebagaimana telah menjadi pemberitaan di Minggu seorang pria melakukan penyerangan dengan senjata tajam saat ibadah misa di Paroki Santa Lidwina tersebut. Akibatnya tiga orang umat, satu orang Romo dan satu anggota polisi mengalami luka akibat senjata tajam.

Motif penyerangan di Gereja Santa Lidwina sendiri masih terus dalam pendalaman pihak kepolisian setempat. Sebab selama ini  tidak pernah ada persoalan terkait keberadaan gereja yang sudah berusia hampir 40 tahun tersebut. Berbagai kegiatan ibadah pun selalu kondusif.

Para imam dan umat Katolik di wilayah ini menyambut baik sikap empatik yang ditunjukkan oleh Buya Syafii. Di tengah kondisi yang masih agak rusuh dan penuh duka, tindakan tersebut dinilai membantu menyejukkan suasana.

Tak hanya kepada Buya Syafii, ketua pengurus Paroki St. Lidwina, Sukatno juga mengapresiasi dan berterima kasih kepada para warga kampung di sekitar gereja yang turut membantu mengevakuasi umat dan mengepung pelaku saat gereja diserang.

Warga kampung langsung menuju gereja dan membantu umat yang panik menyelamatkan diri lalu mengepung pelaku dengan membentuk pagar manusia di pintu pintu gereja agar tak melarikan diri,” ujar Sukatno.

Sumber: kompas.com

Komentar Anda

komentar