Konflik di Poso tahun 1998 hingga 2001 menyisakan kenangan buruk dan luka yang mendalam bagi negeri ini. Saat itu amarah masyarakat pecah dan Poso pun berdarah. Pembakaran rumah ibadah hingga bunuh membunuh menjadi pemandangan biasa saat itu. Saat konflik di Poso semakin kacau, ada seorang pemuda yang tergerak untuk membantu warga. Dialah Budiman Maliki, seorang mahasiswa yang menuntut ilmu di Universitas Tadulako. Budiman dan rekan-rekannya secara suka rela membantu dan mengurus warga yang mengungsi ke Palu kala itu.

Pekerjaan itu pun berlanjut meski konflik telah usai. Bahkan tugasnya kian bertambah karena kehidupan di Poso saat itu memang belum stabil. Masyarakat menderita trauma, dan kehilangan tempat tinggal, belum lagi fasilitas sekolah rusak dan kondisi ekonomi yang memburuk. Mereka harus menata kembali kehidupannya yang sempat kacau. Dan Budiman memutuskan untuk tetap membantu dan menemani masyarakat melewati semuanya.

Di tengah-tengah pengabdiannya, tak semua hal berjalan mulus. Ia harus menghadapi tantangan karena berada di wilayah rawan konflik. Pernah suatu kali, bantuan yang diberikan Budiman melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM) tempatnya bergabung dicegat masyarakat. Tak ada yang bisa disalahkan, kondisi batin masyarakat yang belum benar-benar pulih harus bisa dimaklumi.

Pada tahun 2003, bermodalkan dana terbatas dan patungan dengan temannya sesama aktivis, Budiman bertekad mendirikan Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPSM). Lembaga ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dalam berbagai bidang, diantaranya manajemen pasca konflik, pemberdayaan ekonomi dan diskusi-diskusi. Bahkan bantuan dari donatur internasional dimanfaatkan LPSM untuk mendukung para petani guna meningkatkan hasil pertaniannya. Dan lagi-lagi kerja keras Budiman terbayar lunas. Dari hari ke hari kehidupan masyarakat mulai pulih.

Baca juga  SAE Nababan Pendeta di Lima Zaman

Tahun 2008, saat menempati posisi direktur LPSM, Budiman bersama-sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) membentuk Pos Pelayanan Informasi dan Pengaduan Masyarakat yang ditujukan untuk membantu korban kekerasan mendapat penyelesaian melalui jalur hukum. Tak hanya itu, ia juga menjembatani pemerintah dan masyarakat untuk pemenuhan hak atas pendidikan, kesehatan dan aspek lainnya.

Ketika rekan-rekannya yang lain memilih untuk melanjutkan kehidupan masing-masing, Budiman masih tetap setia untuk melanjutkan apa yang telah dimulainya. Ia terinspirasi almarhum ayahnya untuk tetap mengabdi kepada masyarakat. Tak jadi masalah baginya sekalipun  harus menjalani kehidupan yang sederhana dengan usaha kecil-kecilan.

Sumber Foto: Kompas.com

Untuk semua kerja keras yang telah dilakoninya, Maarif Institute for Culture & Humanity menganugerahkan Maarif Award di Tahun 2016. Sudah sepantasnya memang Budiman yang tekun melakukan gerakan kemanusiaan ini diapresiasi. Membebat luka batin masyarakat Poso dan membantu untuk menata kehidupan mereka bukanlah perkara mudah.

Budiman membuktikan bahwa keterbatasan tak jadi penghalang untuk menuntaskan misi kemanusiaan yang dia mulai bersama rekan-rekannya. Sungguh, Budiman Maliki pantas menjadi teladan untuk kita atas ketangguhan dan jalan hidupnya yang sangat menginspirasi. **yst

Bagikan

Komentar Anda

komentar