Pemandangan itu langsung menyita perhatian kami. Panorama alam, di desa yang dikelilingi bentangan sawah itu memang unik. Begitu masuk gapura blok ini, ada kompleks pemakaman umum. Dari nisannya langsung terlihat kalau ada kuburan umat yang beragama Kristen juga Islam. Tidak terpisah.

Setelah melewati bagian ini, tanda harmoni lain pun terlihat, berdiri masjid dan gereja berdampingan. Bangunan rumah ibadah dua agama itu hanya berjarak kurang dari 50 meter di Blok Rehobot. Pemeluk kedua agama hidup rukun dan saling menghormati satu sama lain.

Kesan toleransi itu begitu kuat sejak permulaan. Kami peserta Youth Interfaith Camp (YIC) yang diselenggarakan Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) dan Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP) langsung disambut dengan nuansa damai dan membumi.

YIC memang kegiatan rutin yang menjadi wadah kebersamaan memperkuat jejaring antar aktivis muda perdamaian di wilayah Jawa bagian Barat. Namun, tujuan spesifik YIC kali ini adalah untuk memotret dan belajar mengenai sikap toleransi di Desa Jayamulya, Blok Rehobot, Kabupaten Indramayu. Selama tiga hari (3-5 Desember 2021), para peserta diajak untuk menggali dengan rendah hati, apa yang membangun kerukunan di wilayah ini.

Masyarakat Blok Rehobot dalam waktu yang cukup panjang mengalami proses toleransi dan hidup berdampingan antara jemaat GKP Tamiyang dan jamaah Masjid Nurul Huda. Kerukunan umat beragama di Rehobot menjadi bukti keharmonisan umat beragama di sana.

Utamanya karena kita berasal dari leluhur yang sama. Adapun beda pilihan agama, itu tidak menghilangkan kekerabatan,” demikian ungkap Ujang, salah satu tokoh pemuda di wilayah ini. Hal serupa juga diungkap H. Sanda, ketua DKM Masjid Nurul Huda dan Pdt. Johanes pimpinan jemaat GKP Tamiyang.

Mereka mencontohkan bagaimana aktivitas kedua rumah ibadah. Kerukunan beragama di dusunnya sudah terjalin sejak lama. Di tiap acara keagamaan, warga dua pemeluk agama saling mengucapkan selamat. Bahkan saat perayaan, kedua umat bergantian membantu perlengkapan hingga parkiran.

Setiap hari Jum’at gereja tidak melaksanakan kegiatan apapun karena pada hari Jum’at di Masjid ada kegiatan salat Jum’at dan pengajian. Begitu sebaliknya, masjid pada hari Minggu meniadakan kegiatan dan mengecilkan suara azan saat ada kegiatan ibadah di gereja.

Pernah suatu ketika perayaan Hari Raya berbarengan dengan Ibadah Minggu. Akhirnya, mereka melakukan penyesuaian waktu agar tidak bertabrakan dengan umat Islam.

Kita menyadari, kesatuan erat hubungannya dengan keutuhan. Kesatuan masyarakat Rehoboth ini, berarti keadaan yang merupakan satu keutuhan sebagai bangsa Indonesia. Sementara kesatuan bertanah air, merupakan satu keutuhan di dalam wilayah yang dihuni secara turun temurun oleh bangsa Indonesia.

Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia telah tumbuh dan terbentuk dalam nilai-nilai budaya masyarakat Rehoboth. Jauh sebelum kemerdekaan, persatuan bagi masyarakat Rehoboth memiliki makna yang sangat mendalam sepanjang sejarah perjuangan bangsa.

Ini adalah potret Indonesia yang harus selalu kita jaga sebagai kaum muda dan warga negara Karena Indonesia adalah hypermarket keberagaman yang rawan terjadinya konflik. Agama harus menjadi social cement (perekat sosial) bahkan integrating force, bukan sebaliknya sebagai sumber pencipta konflik (conflict maker).

Sebagai juru damai, agama harus memenuhi dua syarat: Pertama, ia harus mampu mendamaikan dirinya sendiri. Kedua, ia harus membenci pada sikap permusuhan. Kondisi damai akan melahirkan kerja-kerja cerdas berbasis kebudayaan yang bisa dimanfaatkan dalam waktu yang sangat lama. Sebaliknya, perpecahan akan menjadi coretan sejarah buruk, yang tidak layak ditiru oleh generasi masa depan.

Kontributor: M Rizki dan Kefi Maulana (Gusdurian Bekasi)

Bagikan

Komentar Anda

komentar