Enggak usah. Ini keadaan lagi enggak enak, kejadian kayak begini nanti malah dimanfaatkan oleh orang yang berkepentingan,” nasehat Asmono pada anak-anaknya sesaat selepas mengetahui salib di makam istrinya dicabut lagi.

Ibu di keluarga ini, Sri Wiyanti, dimakamkan di kompleks pemakaman RS Bethesda Yogyakarta, dimana terjadi pengrusakan terhadap 8 makam Kristiani Sabtu (6/4) lalu. Sebelumnya makam Sri Wiyanti juga pernah dicabut salibnya, namun kali ini tak hanya dicabut tapi juga dibakar. Anak-anak Asmono begitu marah, berniat memotret bekas salib itu dan mengunggahnya di media sosial agar viral. Namun, Asmono mencegahnya.

Apa yang sedang diupayakan Asmono memang merupakan bentuk aktif untuk mengupayakan damai. Tidak hanya oleh dirinya seorang, tapi sekian banyak warga yang berupaya terus menunjukkan wajah toleransi Yogyakarta.

Rabu pagi (10/4) kompleks pemakaman RS Bethesda Yogyakarta dipenuhi ratusan orang lintas-iman dan organisasi. Macam-macam atribut. Ada yang dari Palang Merah Indonesia, polisi, TNI, perempuan berkerudung, laki-laki berpeci, dan banyak lagi. Mereka bahu-membahu membersihkan makam setelah peristiwa perusakan dan pembakaran salib di lokasi itu.

Orang-orang ini mewakili sejumlah elemen diantaranya Paguyuban Tresna Sejati (perkumpulan ahli waris yang leluhur dan saudaranya dimakamkan di kompleks pemakaman), karyawan RS Bethesda, ahli waris, Koramil, polisi, PMI, Banser NU, Pemuda Pancasila, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Ketua Paguyuban Tresna Sejati, Suwarto Hadi, menilai aksi bersih-bersih makam merupakan “hikmah” setelah peristiwa perusakan salib. Warga berkumpul. Saling membantu tanpa memandang agama. Tak hanya tenaga, warga menyumbang donasi untuk membeli cat, nasi kotak, camilan, dan lain-lain.

Suwarto mengetahui peristiwa perusakan dari salah satu ahli waris yang menengok makam. Ia dihubungi pemerintah daerah untuk diajak rapat membicarakan masalah ini. Titik temunya: mereka menyepakati doa bersama dan bersih-bersih makam.

Ada hikmahnya acara ini, yaitu mengguyubkan. Ada yang mengait-ngaitkan dengan peristiwa yang terjadi di daerah fanatik, di sini enggak. FKUB di sini kondusif, peristiwa ini jarang terjadi,” ujar Suwarto.

Sumber: tirto

Komentar Anda

komentar