Hari Minggu (5/11) itu terasa unik. Sejumlah perempuan muda berjilbab dan pria berkopiah turut hadir dalam ibadah yang diselenggarakan di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gresik. Tapi ini bukan acara Kristenisasi apalagi pemaksaan suatu ajaran agama kepada pemeluk agama lain. Justru sebaliknya. Ini merupakan proses untuk saling belajar, berbagi cerita, berdialog, bekerjasama, mengelola perbedaan, berkampanye, dan menuliskan pengalaman perjumpaan dalam perbedaan agama, dengan bingkai semangat kebersamaan dan persaudaraan.

Mereka adalah sebagian dari peserta Peace Train Indonesia II, yaitu program traveling lintas agama dengan menggunakan kereta api, menuju ke satu kota yang telah ditentukan. Di program kedua ini tujuannya adalah Surabaya, Sidorjo dan Gresik, Jawa Timur.

Peserta mengunjungi komunitas agama-agama, komunitas penggerak perdamaian, rumah-rumah ibadah, dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai aktor penting toleransi dan perdamaian antar agama.

Program ini memiliki dua tujuan utama, yakni menciptakan jembatan penghubung antar pemuda dari berbagai agama di satu kota dengan para pemuda lintas agama di kota tujuan. Kedua, menciptakan ruang perjumpaan antar pemuda dari berbagai agama tersebut dengan beragam komunitas agama, komunitas penggerak toleransi dan perdamaian serta komunitas rumah-rumah ibadah dari berbagai agama,” kata Ahmad Nurcholish, salah satu penggagas acara ini pada Jumat (03/11).

Perjumpaan tersebut penting agar generasi muda kita dapat saling mengenal, terutama terhadap pelbagai keragaman agama serta keunikan dan kekhasan di dalamnya sehingga memungkinkan mereka untuk saling memahami, menghargai dan menghormati yang pada tahap selanjutnya dapat saling bekerjasama mewujudkan perdamaian,” lanjut Nurcholish.

Program ini merupakan yang kedua kali, setelah Peace Train Indonesia I dianggap sukses. Pada 15-17 September lalu, Peace Train I menempuh perjalanan Jakarta- Semarang. Sedangkan Peace Train II ini menempuh perjalanan Jakarta-Surabaya pada 3-5 November.

Peace Train II diikuti oleh 20 peserta dari berbagai agama yang berasal dari Medan, Riau, Jabodetabek, Salatiga, Cirebon, Rembang, Makassar, Banjarmasin, Papua, Sidoarjo, Lamongan, Surabaya dan Malang. Ke-20 peserta tersebut ditemani oleh 5 orang fasilitator, yakni Ahmad Nurcholish, Anik HT, Frangky Tampubolon, Destya Mawriz, dan Johan Edward yang merupakan penggagas dari program ini.

Program ini diorientasikan untuk menjadi program regular – yang rencananya akan dihelat setiap bulan dengan tujuan kota yang berbeda-beda – agar dapat mengeksplorasi sebanyak mungkin kota di Indonesia yang bisa dijangkau melalui moda kereta api, dan melibatkan sebanyak mungkin komunitas muda lintas agama.

Sebelum mengunjungi GKI Gresik, para peserta sudah terlebih dulu ke Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya sehari sebelumnya. Mereka juga telah berkunjung Masjid Khuddamul Ahmadiyah Indonesia Surabaya,selain ke Pura Segara, Surabaya, dan Sanggar Sapta Dharma, Surabaya. Destinasi terakhir Peace Train II adalah GP Ansor & Forum Kebangsaan Jatim.

Sumber: satuharapan.com

Komentar Anda

komentar