Peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo menganjurkan untuk belajar toleransi dari sejarah masa lalu. Ia mengaku prihatin dengan banyaknya hujatan dan penyebaran kebencian di dunia maya akibat perbedaan pilihan politik dan perbedaan pemahaman agama sekarang ini.

Bambang Budi Utomo mencontohkan, di zaman Kedatuan Sriwijaya yang beragama Buddha, semua pemeluk agama bisa berdampingan walau beda kepercayaan. Hal itu bisa dibuktikan dari Arca Boddhisattwa Awalokiteswara yang dibuat oleh seorang Pendeta Hindu yang dihadiahkan untuk Umat Buddha.

Menariknya di belakang Arca itu terdapat pahatan Aksara Jawa Kuno yang berbunyi ‘Dan Acaryya Syuta’, nama Pendeta Hindu itu,” ujar arkeolog yang sering dipanggil Tomi, seusai Kegiatan Sosialisasi Rumah Peradaban Sriwijaya di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Karanganyar, Palembang, Rabu (16/7).

Tomi juga menjelaskan, bukti toleransi tidak hanya berenti pada arca itu. Contoh lainnya adalah ketika ketika Maharaja dari Kerajaan Sriwijaya mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa tahun 717-720 Masehi di Kekhalifahan dinasti Umayyah. Isi surat itu adalah pesan adanya kiriman dari Sriwijaya sebagai tanda persahabatan. “Juga permintaan pengiriman mubalig untuk mengajarkan Islam dan menjelaskan padanya,tentang hukum-hukum agama Islam” lanjut Tomi.

Ini tidak lantas berarti konversi sang maharaja. Masalah apakah maharaja tersebut akhirnya memeluk Islam atau tidak, menurut Tomi, belum ada petunjuk temuan-temuan yang menerangkannya, mengingat Sriwijaya masih tercatat bercorak Buddhisme di catatan setelahnya. Surat dari Maharaja Sriwijaya kepada Kholifah Umar bin Abdul Aziz itu tercantum dalam Naskah Fatimi yang pernah dipublikasikan oleh Islamic Research Institute, International Islamic University di Islamabad, 1963.

Beberapa penemuan arkeologis lain juga kian mengambarkan Kerajaan Sriwijaya sangat toleransi dengan ditemukannya kapal Sriwijaya yang tenggelam di perairan Cirebon, di dalamnya ditemukan artefak seperti barang kaca dari Persia, liontin yang berisi Asmaul Husna dengan ukuran setengah mili, “Ada juga emas dan barang kaca dari Tiongkok,” imbuh Tomi.

Tomi yang juga tercatat sebagai Arkeolog alumnus Universitas Indonesia ini berharap pemuda bisa menahan diri atas perbedaan-perbedaan yang ada dan selalu belajar dari sejarah. “Selain Sriwijaya, Kerajaan Majapahit setelahnya, juga mengajarkan toleransi,” katanya. Toleransi adalah kunci menjadi Indonesia yang penuh dengan keberagaman dari kebudayaan, suku dan bahasa ini.

Sumber: tempo.co

Bagikan

Komentar Anda

komentar