Saya terbilang telat menonton Film Ip Man 3, serial film yang diluncurkan akhir tahun silam. Padahal sudah sejak lama disarankan rekan-rekan untuk menonton film ini. Bagi saya, film apik yang berkisah episode kehidupan master Yip Man, mahaguru beladiri Wing Chun, memang enak dinikmati sejak sekuel perdananya.

Saya memang selalu suka garapan Donnie Yen dan Wilson Yip. Latarbelakang mereka sebagai koreografer film kungfu selama puluhan tahun telah mengantarkannya pada kemasan kungfu realistis dalam setiap film yang dibintanginya. Tak ada adegan terbang, tak ada ilmu gaya sihir sebagaimana kita lihat dalam film-film Jet Li era 1990-an. Tak ada juga aksi melayang-layang di atas daun seperti yang kita jumpai dalam Crouching Tiger Hidden Dragon era 2000-an. Semuanya seolah realistis dalam setiap inci adegan.

Satu hal lagi yang saya sukai dari karya Donnie Yen, ia selalu menyuguhkan pentingnya keluarga. Dari Wu Xia, Ip Man 1, 2 hingga 3, pesan menjadi suami yang baik dan ayah yang mengasyikkan bagi anak, disisipkan. Lihatlah, bagaimana dia dengan tenang berlatih dansa menemani istri yang sakit kanker, dan mengabaikan pertarungan dengan Cheung Tin-chi, kompetitor sesama aliran Wing Chun. Padahal, dalam pertarungan itu keabsahan dirinya sebagai mahaguru Wing Chun dipertaruhkan di depan para pendekar berbagai aliran.

Justru, di pertarungan terakhir melawan Cheung Tin-chi, yang sepi dari liputan media, Guru Yip melontarkan pesan: “Tidak ada yang lebih penting dari orang yang kau kasihi berada di sampingmu…

Selain menyisipkan propaganda supremasi Tiongkok atas negara lain di setiap filmnya: melawan perwira Jepang (Ip Man 1), bertarung dengan petinju Inggris (Ip Man 2) dan melawan bos gangster Amrik yang diperankan Mike Tyson (Ip Man 3), serial yang disutradarai Wilson Yip ini juga menyelipkan perkembangan koreografi di setiap era perfilman Hongkong.

Era pertarungan satu lawan satu secara alami di era 1970-an dan 1980-an (Bruce Lee dan Jackie Chan muda), teknik menggunakan debu sebagai gambaran efek pukulan di era 1990-an (khas Jet Li), spesial efek era 2000-an (zaman Chou Yung Fat sudah matang), dan kembali lagi pada tradisi pertarungan individu tanpa spesial efek berlebih di awal 2010-an, disertai dengan sorot kamera yang detail pada setiap gerakan dan gerak lambat dengan kamera memutar.

Sudah? Belum. Dalam Ip Man 3, ada cerita Cheung Tin-chi, pengemudi becak yang berambisi menjadi mahaguru aliran Wing Chun dan berupaya menggeser reputasi Guru Yip. Hal ini yang justru menjadi awal analisis lebih pas atas kenyataan di dunia nyata belakangan.

Cheung Tin-chi, dengan arogan menyatakan dirinya sebagai pewaris asli aliran Wing Chun. Dirinyalah yang berhak menyandang predikat pelanjut jurus lama Wing Chun, karena Guru Yip telah mengajarkan inovasi yang mengancam keaslian gerak beladiri asli Foshan itu. Ia, selain menahbiskan dirinya sebagau shifu, juga memproklamirkan diri sebagai pengajar “Wing Chun asli” yang tak ternodai kreasi Guru Yip.

Bukankah ini juga kita temui dalam kenyataan belakangan? Ada aliran agama yang mengklaim “Islam murni,” “Kristen asli” dan sebagainya, serta mendaku sebagai calon tunggal penghuni surga. Semua sebenarnya tidak menimbulkan masalah, kecuali apabila klaim-klaim semacam ini diiringi dengan aksi kekerasan verbal dan fisik.

Klaim sebuah kelompok sebagai pewaris sah, pelanjut tunggal, pengamal ajaran asli, dan klaim-klaim lainnnya selalu ada dalam tradisi masyarakat kolektif dan ritus berorganisasi. Bahkan dalam sepakbola, juga ada eyel-eyelan soal gaya asli tiki-taka, cattenaccio murni, hit and run ortodoks, dan sebagainya.

Dimanakah letak awal mula masalahnya klaim-klaim ini? Semua menjadi problem apabila dibenturkan antara yang lama dan baru, yang asli dan imitasi, yang orisinil dan hasil kreasi. Menjadi problem apabila kekerasan verbal dan fisik pada kelompok lain menjadi bumbunya. Menjadi problem apabila berharap klaim itu harus diserui tepuk-sorak semua orang saat menjungkalkan yang lain. Mungkin, demikian.

W’Allahu A’lam

Penulis: Rizal Mummazziq (Dosen Mata Kuliah Fiqh IAIN Jember)

Komentar Anda

komentar