Siapa bilang menghargai perbedaan itu sulit? Mungkin sebagian dari pembaca dibuat gerah soal intoleransi yang belakangan semakin mengelakar. But in other side, di Jawa Barat yang katanya dikenal sebagai masyarakat dengan intolernasi tertinggi tidak semuanya benar.

Pernah gak sih terlintas dibenak pembaca kalau ada tempat beribadah yang berdiri secara berdampingan namun tidak pernah ada perselisihan? Oke, itu jarang banget terjadi di sekeliling kita.

Sebutan Kampung Toleransi memang belum lama muncul, karena wilayah tersebut lebih dikenal sebagai Gang Ruhana. Nah jalan kecil berukuran lebar sekitar satu setengah meter ini, mempunyai keunikan tersendiri loh guys.

Bagaimana tidak? di wilayah RT 002 RW 002 Kecamatan Paledang Kota Bandung memiliki 1 gereja, 1 masjid, dan 1 vihara yang lokasinya tak hanya berdekatan juga berdampingan. Percaya atau tidak, semuanya hidup rukun bahkan saling merayakan hari besar antar sesama masyarakat.

Vihara Giri Metta

Seperti halnya Vihara Giri Metta, dulu vihara tersebut dibangun oleh Wong Yoon Lin yang saat ini dirawat oleh cucunya, Wong Ceping atau yang biasa disapa Koh Ahoy. Berdasarkan keterangan Koh Ahoy dulu tanah vihara tersebut merupakah tanah sewa yang diberikan oleh seorang haji hingga sekarang menjadi milik bersama.

“Kalau lagi Kirab masyarakat yang lain membantu menyediakan ritual, itu tradisi sejak dulu” jelas Koh Ahoy seraya kembali mengepulkan rokok dijarinya, Senin (4/10).

Salah seorang jemaah Gereja, Miming (52) juga mengatakan tradisi dan ritual yang ada di Kampung Toleransi merupakan segala sikap masyarakatnya yang terdahulu. Ia juga tak keberatan membantu masyarakat lain yang memang berbeda keyakinan dengannya. “Mau apa apa ya kita kan tetap Indonesia, satu,” terang pria yang menyukai lagu Jagalah Hati milik Aa Gym.

Ketua Rukun Tetangga 002, Agus Sujana Juli dengan ramah menceritakan bagaimana adat dan sikap masyarakat di lingkungan yang ia singgahi puluhan tahun. Ia yang sejak kecil memang memiliki teman yang mayoritas non muslim, sangat kuat terhadap sikap toleransi. Contoh kecil, saat tahun lalu Imlek sedang berlangsung, tepat pada hari itu juga umat muslim melaksanakan Shalat Jum’at.

Saat adzan berkumandang, seluruh masyarakat Buddha langsung menghentikan kegiatannya. ” Padahal saya dan pak RW tidak menyuruh, mereka dengar adzan langsung salah satu dari mereka sendiri bilang berhenti lagi adzan” ujarnya tersenyum.

Desain Mural Keberagaman

Kalau pembaca masuk ke kampung ini, bakal disuguhi pemandangan cantik di sudut jalannya. Desain mural semakin menambah nuansa damai, rindang pepohonan di sepanjang jalan gang pun tampak hijau dan asri. Mural yang digambar merupakan hasil gotong royong seluruh masyarakat.

Bisa dilihat nanti, ada gambar pohon keberagaman. Dimana bulan bintang menghiasi, lalu lukisan pohon cemara yang berdiri kokoh dan barongsai yang menandakan sebuah harapan bagi masyarakat Kampung Toleransi.

Kampung ini juga pernah menjuarai Pemetaan KS Tingkat Nasional untuk Jawa dan Bali. Penduduknya pun sangat welcome loh ketika ada turis, mahasiswa atau masyarakat luar yang sekadar ingin tahu seluk beluk Kampung yang sangat pancasilais ini.

Agus juga menceritakan, mendidik anak di lingkungan seperti ini memang menjadi sebuah tantangan namun dengan hal ini juga anak akan semakin tahu dan semakin memahami arti kebhinekaan.

Terakhir, Agus berpesan bagi siapapun yang ingin silaturahmi mengenal masyarakat Gang Ruhana silakan datang tak perlu sungkan. So, buat kalian yang ingin wisata religi sesuai kepercayaan masing-masing atau sekadar foto-foto datang saja langsung! (Awallina Ilmiakhanza, Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Sumber: kabardamai.id

Bagikan

Komentar Anda

komentar