Merayakan Sumpah Pemuda di lapangan futsal? Ide yang tentu menarik. Itulah yang kami bayangkan saat menggagas Diversity Cup yang berlangsung di akhir Oktober lalu (26-28/10). Event yang dikerjakan bersama FLADS, Jarilima dan sejumlah lembaga keagamaan dan organisasi kaum muda di Bandung, ini boleh dikatakan mencari variasi dalam kegiatan lintas agama.

Sebagaimana diungkapkan oleh ketua FLADS Kiagus Zaenal Mubarok, kegiatan keberagaman buat anak-anak muda tidak harus selalu formal di dalam ruang kelas atau seminar. Perjumpaan itu bisa dilakukan dan lebih terasa lewat permainan bersama. Kali ini kami memilih olah raga futsal sebagai sarana perjumpaan itu.

Tentu saja ide dan konsep itu baik sekali. Namun implementasinya di lapangan memang butuh kerja keras. Selama sekitar dua bulan persiapan, kami sempat menghadapi sejumlah kesulitan, baik soal menggaet peserta, maupun hal-hal teknis seperti penyediaan lapangan, peralatan dan wasit. Untungnya banyak pihak yang membantu, terlebih soal peserta kebanyakan yang ikut bukanlah sasaran yang terpapar kegiatan lintas agama selama ini.

Kami sempat khawatir juga, karena di sejumlah event futsal, meski bertajuk persahabatan, kadang kala menghasilkan semangat kompetisi yang kelewat tinggi. Tak jarang ada bentrok fisik antar tim yang bersaing ketat. Beberapa kali di Diversity Cup ini, hal itu pun hampir terjadi. Untunglah jauh-jauh hari sebelumnya kami sudah ingatkan tujuan kegiatan ini adalah saling mengenal dan silaturahmi.

Ingat sportivitas dan solidaritas,” kata itu pun selalu diteriakkan panitia dan suporter dari pinggir lapangan. Suasana yang kadang tegak dan agak panas pun menjadi lembut bahkan penuh canda, meski permainan tetap sengit dan seru. Walhasil, meski tim keamanan hanya diselenggarakan oleh panitia, tidak ada kericuhan yang terjadi.

Melampaui kompetisi, Diversity Cup adalah cerita dan ruang temu. Pemenang dari kompetisi ini bukanlah sekedar Tim SMBM yang meraih juara I, Incubus yang menjadi juara II atau Forteam yang menjadi juara III. Tapi 32 tim, serta 150-an peserta dan panitia adalah juga pemenang karena telah mewakili keberagaman dan kesatuan anak muda di Kota Bandung.

Sungguh indah melihat kesempatan tatkala Pak Saeful Abdullah dengan bersemangat memotivasi: “Maju terus anak muda, kita Bersama.” Atau tatkala Bang Jeffrey Samosir mengundang tiap peserta untuk mengulang ikrar Sumpah Pemuda di lapangan futsal sembari memberikan closing speech-nya.

Yang membuat lebih bersemangat, selepas acara hampir semua peserta bertanya kapan agenda kegiatan lintas iman berikutnya. Mereka siap terlibat untuk karya keberagaman di Bandung.

Disarikan dari: Johan Eduard (Jarilima)

Komentar Anda

komentar