Di suasana duka atas wafatnya sesama warga Indonesia akibat pagebluk Corona terdengar berita bahwa masyarakat adat Baduy Dalam serta masyarakat Bantar Gebang sebagai lokasi pembuangan sampah terbesar di Asia Tengara, hidup aman tenteram dan sehat walafiat seolah di sana tidak ada yang disebut sebagai pagebluk Corona.

Setiap hari asisten saya menelpon sanak-keluarga di kampung halaman yaitu Desa Maria, Kecamatan Wawo di ujung timur pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, untuk menanyakan apa sudah ada warga terpapar Corona.

Ternyata sejak awal 2020 sampai saat naskah ini saya tulis tidak ada warga Desa Maria terpapar Corona.

Tidak ada warga Baduy Dalam dan Bantar Gebang mau pun Desa Maria menyombongkan diri mereka kebal Corona.

Bagi masyarakat kampung dan desa bukan sesuatu yang luar biasa apalagi istimewa bahwa mereka tetap hidup sehat walafiat sementara bangsa Indonesia termasuk saya sedang kalang-kabut berjuang melawan Corona.

Riset
Para cendekiawan terutama yang ilmuwan boiologi molekular serta epidemiologi mencoba agar lebih keren disebut meriset bagaimana masyarakat adat dan masyarakat rural mampu bertahan sehat walafiat di tengah kemelut pagebluk Corona yang bukan mereda malah makin merajelela ganas menerkam manusia yang bermukim di luar Baduy Dalam, Bantar Gebang atau Desa Maria.

Hasil riset para ilmuwan dapat diduga pasti beranekaragam. Para skeptiker menganggap apa yang terjadi pada masyarakat adat dan pedesaan sekadar kebetulan belaka.

Ada yang curiga masyarakat rural tidak terdeteksi statistik terpapar Corona. Ada yang menyimpulkan bahwa masyarakat Baduy Dalam, Bantar Gebang dan Desa Maria adalah masyarakat rural yang secara alami sudah tervaksin maka mampu menghadirkan apa yang disebut sebagai herd community.

Para peniliti yang religius bisa saja menyimpulkan bahwa masyarskat Baduy Dalam, Bantar Gebang dan Desa Maria sangat khusyuk dalam berdoa agar mereka dilindungi dari ancaman angkara murka virus Corona.

Para pemerhati jamu menyimpulkan bahwa masyarakat tradisional mewarisi kearifan kesehatan leluhur Nusantara dalam bentuk ramuan jamu ampuh melawan penyakit termasuk Corona.

Namun pada kenyataan, masyarakat Bantar Gebang, Desa Maria apalagi Baduy Dalam relatif lebih sedikit berjumpa warga luar negeri yang membawa virus Corona ke dalam negeri Indonesia.

Kearifan Leluhur
Maka sebaiknya untuk sementara Kementerian Pariwisata jangan gencar mempromosikan Baduy, Bantar Gebang dan Desa Maria yang tersohor atas arsitektur lumbung padi tradisionalnya sebagai destinasi wisata domestik apalagi internasional selama Corona masih menggila.

Sudah terbukti bahwa lalu-lintas masyarakat internasional merupakan jalur utama yang sangat disukai oleh para virus untuk merajalelakan diri ke segenap pelosok marcapada.

Namun apa pun alasannya mengingat pagebluk bukan pertama kali menerkam persada Nusantara seperti tersirat di dalam legenda Calonarang dari zaman Airlangga, dapat diyakini bahwa kita semua bisa belajar dari masyarakat adat dan masyarakat pedesaan yang telah mewarisi kearifan leluhur kakek-nenek moyang bangsa Indonesia demi berjaya menanggulangi segenap ancaman angkara murka virus beserta segenap sanak mutasi sebagai keturunan para virus yang sejak ratusan tahun yang lalu telah merambah masuk ke dalam wilayah Nusantara.

Penulis: Jaya Suprana (Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan)
Sumber: kompas.com

Bagikan

Komentar Anda

komentar