“Ambil Hak secukupnya, tumbuhkan rasa kebersamaan dan sikap saling menghargai, itu kunci”

Seberkas mega merah mulai menghilang di ufuk barat. Hadirnya semakin tergerus, tertelan malam yang mulai menggerayangi Bumi Khatulistiwa, tempat Pura Giri Mulawarman dan Masjid Al Amien berdiri dalam damai.

Pada waktu itu juga, seorang dengan menggunakan sepeda motor berhenti di pekarangan pura. Setelah memarkirkan kendaraannya, ia kemudian memetik dua bunga tak jauh dari tempat parkir motornya. Bunga itu melengkapi sarana ibadahnya, setelah empat sekawannya yang lain yaitu air, dupa, daun dan buah, yang telah sebelumnya disiapkan.  “Asal bunganya masih segar, bisa digunakan,” kata Nyoman, Jumat(14/9).

Nama lengkapnya Nyoman Astawe(20). Pria bermata teduh dan tutur kata yang kental dialek Bali. Wajahnya yang oval semakin teduh dengan bunga putih yang terselip di daun telinganya.

Usai menyelipkan bunga, Astawe kemudian berjalan menuju tempat tirtha di samping gapura. Dengan air tersebut, Ia kemudian memercikannya di bagian kepala. Tiga kali ia mengulang sebuah laku yang memiliki tujuan untuk mensucikan diri ini. “Sebelum masuk tempat suci, kita harus mensucikan diri dulu, kalau di Islam mungkin semacam wudhu,” katanya menjelaskan.

Astawe lalu masuk dalam pura, melalui gerbang yang di samping kanan kirinya terdapat patung penjaga yang bernama Nandiswara dan Mahakala. Ia kemudian mengambil sikap asana dan menenggelamkan dirinya dalam adab dan rapalan mantra-mantra.

Kurang lebih 10 menit ia menenggelamkan dirinya dalam kekhusuyukan, mendekatkan diri dengan Tuhan di petang itu. Meski dalam 10 menit itu ia lewati dengan berbagi antara heningnya petang dan lantunan azan dari masjid Al Amien yang berada tepat di sebelah timur Pura Giri Mulawarman.

“Karena ketika sembahyang itu fokusnya hanya pada Tuhan, istilahnya pemusatan pikiran, harus konsentrasi, tapi kalau sudah sampai fokus, kita ndak akan terganggu hal lain,” tuturnya.

Suasana Pura memang tidak sama seperti ditempat asal Nyoman yaitu kampung Bali, Sukadana. Meskipun suasana yang berbeda, menurutnya perbedaan tersebut tidak memberikan dampak yang signfikan selain aplikasi dari teori tentang toleransi benar terjadi di pura dan  masjid yang berdampingan ini.

Pura Giri Mulawarman dan Masjid Al Amien berlokasi di Jalan Adi Sucipto, Kabupaten Kubu Raya. Pura tersebut mulanya dibangun pada tahun 1970 dan kemudian direnovasi pada tahun 1979. Nama Pura yang diambil dari nama Raja kerajaan Kutai tersebut adalah pura terbesar di Kalimantan Barat, yang juga sekaligus pura tingkat provinsi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar merilis jumlah penduduk beragama di Kalimantan Barat. Pada tahun 2016 jumlah pemeluk agama Hindu di Kalbar sebesar 11.136 jiwa. Angka ini sama dengan 0,20% dari total jumlah penduduk Kalbar yang sekitar 5,3 juta jiwa. Nilai yang terkecil jika dibandingkan dengan jumlah pemeluk agama lain yaitu Islam 55,6%, Katolik 23,5%, Protestan 13,6%, Buddha 6,7% dan Kong Hu Chu yang sebesar 0,25%.

Salah satu tokoh yang berjasa dalam kedamaian ini ialah Abdul Haris. Jika melihatnya sekilas mungkin akan terlihat seperti Tokoh pewayangan yang hidup nyata, yaitu Semar. Dengan tubuhnya yang gemuk dan berisi. Bedanya adalah jika tokoh Semar menjadi pengasuh Pandawa dalam epos Mahabharata, Abdul haris bertugas “mengasuh” masjid Al Amien.

Abdul Haris yang juga sekaligus penduduk setempat ini mengaku damainya kedua tempat ibadah tersebut bukan ujug-ujug terjadi. Karena selama menjadi pengurus masjid tersebut, beberapa aturan yang dibuat memang sebagai penyesuaian untuk menghormati lingkungan sekitar yang tidak homogen islam. Contohnya penyesuaian beberapa aturan untuk menghormati pemeluk agama Hindu.

“Misalnya kalau Nyepi, kami tidak pakai pengeras suara, dan arah corong juga tidak kami arahkan langsung ke Pura,” jelasnya dengan semangat, Jumat (14/9).

Abdul Haris mengaku masyarakat lain juga saling menghargai dan menambah harmonis keberagaman yang ada. “Buktinya tidak pernah ada cekcok ataupun apa sebagainya, semuanya aman dan kondusif,” tegasnya.

Abdul Haris tak seorang diri, selain pengurus masjid lainnya yang juga memiliki semangat yang sama, seorang Resi atau pemimpin ibadah di Pura Giri Mulawarman yang bernama Putu Dupa Bandeng juga berjasa besar dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Dalam pengalamannya sejak tahun 1979 menjadi Resi di Pura, waktu yang dilewat itu juga ia bumbui dengan aling bersilaturahmi dengan para jemaat masjid.

Hubungan baik keduanya juga ditambah dengan saling mutualismenya dalam momen hari raya. Masjid Al Amien dan Pura Giri Mulawarman akan selalu memperbolehkan lahan parkir masing-masing untuk digunakan demi kebersamaan umat.

“Area parkir di belakang Pura itu bisa dipakai kalau memang diperlukan, ” jelasnya ketika dihubungi via telepon.

Resi ini berpegang teguh pada keyakinannya bahwa menjaga kerukunan antar manusia juga sebagai bentuk menjalankan perintah agama, dan itu adalah hal yang paling utama. “Hal yang paling pertama diajarkan dalam Hindu adalah bahwa manusia adalah saudara, yang kedua menjaga hubungan dengan Tuhan dan yang ke tiga hubungan dengan alam,” katanya yang juga sekaligus anggota Forum Kerukunan Umat Beragama.

“Makanya di kita itu sering sekali mengucapkan santi, santi, artinya damai,” tambah pria asal Bali ini.

Semua umat beragama harus belajarlah dari harmonisnya hubungan kedua tempat ibadah ini. Kuncinya tentu saling menghargai dan khusyuk dengan keperluanya masing-masing. Ambil hak secukupnya dan jiwa kebersamaan akan muncul diantaranya, Resi Putu berpesan. (Adi Rahmad, Ketum LPM Untan 2018/2019).

Sumber: kabardamai.id

Bagikan

Komentar Anda

komentar