Sekumpulan anak muda sedang asyik meliuk-liuk sambil memainkan barongsai di atas beberapa bangku yang sengaja disusun tiga tingkat. Tak jauh dari mereka, dua anak beretnis Jawa yang usianya masih belasan tahun mengasah gerakan dan berlatih dengan suara tambur, simbal dan kenong yang mengalun indah meramaikan suasana.

Kelincahan itu terlihat dari cara mereka melompat-lompat di atas tiang yang tingginya berkisar satu hingga tiga meter. Mereka ini adalah bagian dari komunitas Liong Barongsai Tripusaka Solo. Tiap Rabu, Jumat dan Minggu pukul 16.30 WIB, puluhan anak dan remaja ini berlatih di halaman SMP Tripusaka yang beralamat di Jalan Kol. Sutarto Jebres, Solo.

Lelah seolah terbayar dengan suasana kekeluargaan dalam komunitas ini. Latihan kian hangat ketika para anggota yang berbeda etnis dan agama ini saling melempar candaan. Komunitas ini memang jelas berbeda, pemainnya bukan beretnis Tionghoa, melainkan kalangan etnis Jawa dari latar belakang agama yang berbeda.

WS Adjie Tjandra adalah sosok pendiri komunitas ini. Ia menjelaskan bahwa sejarah berdirinya komunitas ini tak lepas dari peran Gus Dur yang memperbolehkan kesenian tradisi Tionghoa bisa dipentaskan secara bebas. Inilah yang menjadi semangat berdirinya Liong Barongsai di Solo kala itu. Komunitas ini berdiri sejak tahun 1999 dan memulai debut di Februari 2011 tepatnya pada perayaan Imlek Bersama di Stadion Sriwedari, Solo.

Bagi Adjie Tjandra kekayaan budaya itu sesuatu yang indah. Siapa pun yang memainkan sebuah seni tradisi itu dengan tulus pasti akan melahirkan sebuah keindahan. Mereka ini bermain tanpa kepentingan, tak ada prasangka apapun. Bermain liong barongsai bukan sekadar liukan tubuh biasa. Di dalam seni ini terkandung banyak nilai-nilai kehidupan yang diaplikasikan dalam komunitas. Liong barongsai adalah simbol keseimbangan dalam elemen-elemennya. Baginya, simbol ini sudah menunjukkan adanya keseimbangan dalam perbedaan.

Baca juga  Menyanyi Lagu Bersama di Srawung Anak Bangsa DIY 2017

Filosofi itu dipraktikkannya bukan saat tampil saja namun lebih dari itu para anggota benar-benar mempraktikkan dalam kesehariannya. Pendiri Liong Barongsai tak pernah mewajibkan anggotanya untuk mengikuti ritual agama Konghucu. Ia menghormati anggotanya untuk tetap berdoa dengan cara mereka masing-masing. Komunitas ini mengajarkan kepada anggotanya bahwa perbedaan bukanlah hal buruk yang harus dihindari. Justru merawat perbedaaan akan mewujudkan harmoni yang indah dalam kehidupan.

Sumber : www.liputan6.com

Bagikan

Komentar Anda

komentar