Sumber Foto: maarifinstitute.org

Tahun 1996, untuk pertama kali Cicilia Yulianti Hendayani berkenalan dengan masyarakat di Dusun Banyu Urip, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Pertemuan itu berawal dari tugas yang mengharuskannya mencari lokasi untuk live in. Program live in ini merupakan kegiatan mahasiswa untuk tinggal dan hidup di desa bersama masyarakat pedesaan guna mengikuti segala aktivitas penduduk desa.

Dalam masa survei yang dijalaninya, Yanti sapaan untuk wanita kelahiran Surabaya, 27 Juli 1968 merasakan bahwa kehidupan masyarakat desa benar-benar sulit. Bahkan saat itu listrik belum masuk dan air untuk kebutuhan sehari-hari pun masih sangat sulit, belum lagi kondisi jalan sangat buruk dan pendidikan sangat memprihatinkan. Banyak penduduk yang buta huruf. Tak satupun masyarakat memperoleh pendidikan lanjutan setelah bangku sekolah dasar.

Program live ini berlangsung sesuau rencana dan berakhir dengan baik. Namun, kegelisahan yang dirasakan Yanti ternyata belum juga hilang. Hatinya masih tertinggal di Banyu Urip. Sudah lama masyarakat mengalami penindasan ekonomi, pendidikan, politilk dan agama. Hal ini dikarekana stigma PKI yang melekat pada mereka sehingga tak berani menyuarakan keterpurukan mereka kepada pemerintah. Pengalamannya selama live in yang membawanya merasakan langsung semua kesulitan itu membuatnya tak bisa diam.

Yanti mengaku seperti ada dorongan dalam dirinya agar melakukan sesuatu bagi Banyu Urip. Sambil berusaha mengajak rekan-rekan yang lain, ia mulai melakukan langkah awal dengan menggunakan tabungan pribadinya.  Saat itu, ia mendapat dukungan dari Pastor F.X Bimo Adimulyo Pr yang memberikannya mobil Jip Wyllis dan uang untuk memulai misi kemanusiaan di Banyu Urip. Perjalanan 3 jam lebih pun ditempuhnya kembali untuk mengobati kegelisahannya atas situasi buruk yang dihadapi masyarakat desa.

Baca juga  Romo Carolus: Menebar Kebaikan Lintas Agama

Saat itu, Yanti harus memulai ulang membangun komunikasi dengan masyarakat. Banyak cara dilakukannya untuk mendapatkan informasi dan sekedar berdiskusi dengan mereka. Bukan hal yang mudah untuk mendapat kepercayaan masyarakat yang begitu menutup diri. Penolakan demi penolakan pun menghalangi niatan baik yang ia bawa dari kota. Namun, bara yang menyala dihatinya tak lantas padam oleh penolakan itu. Yanti berusaha keras mencari cara agar masyarakat membuka hati untuk kedatangannya.

Komunikasi itu kemudian terbangun dari belik (tempat pemandian umum). Belik menjadi tempat yang paling maksimal membangun komunikasi karena selalu ramai dikunjungi warga setiap harinya.  Dari diskusi yang panjang tiap harinya, di dapat satu kesimpulan bahwa warga menyadari pendidikanlah hal terpenting yang mereka butuhkan saat ini. Para orang tua khawatir masa depan anaknya akan berakhir sama seperti mereka.

Yanti kemudian membangun kelompok belajar yang disambut baik para orang tua. Mereka mengantarkan anaknya untuk ikut belajar bersama. Dapur pun seketika disulap menjadi ruangan belajar bagi anak-anak setempat.

Tentu bukan perkara yang mudah mengenalkan pendidikan untuk pertama kali kepada mereka, namun dengan sabar Yanti terus menerus berusaha untuk menumbuhkan minat belajar pada anak-anak tersebut. Terbukti, mereka mengalami kemajuan yang sangat cepat.

Seiring dengan itu, masyarakat semakin terbuka untuk menceritakan berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Permasalahan lain kala masyarakat Banyu Urip menjadi tamu di negerinya sendiri, artinya masyarakat tak memiliki hak atas tanah. Mereka saat itu menjadi penumpang di tanah yang mereka tempati dan tak berani memperjuangkan hak atas tanah karena stigma politik PKI yang melekat di diri mereka.

Mengetahui keadaan ini, Yanti lagi-lagi tak bisa diam. Ia bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya kemudian memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak warga Banyu Urip. Perjuangan mereka tak sia-sia, sertifikat hak atas tanah pun akhirnya menjadi milik warga.

Baca juga  Budiman Membebat Luka di Poso

Tak hanya itu, Yanti bersama warga setempat pun berhasil mendirikan empat Taman Kanak-Kanak (TK) Griya Pitoyo yang menjadi ruang belajar bagi anak-anak lintas agama. Dengan bantuan LSM Sitas Desa yang dibentuknya, ia memperluas kerja di 11 desa lain. Ia pun bekerja sama dengan Solidaritas Umat Beragama untuk memediasi konflik bernuansa agama.

Pada tahun 2008, Maarif Institute for Culture & Humanity menganugerahkan Maarif Award kepadanya untuk mengapresiasi ketangguhan dan kerja kerasnya dalam misi kemanusiaan yang dia bawa untuk Banyu Urip.

Perjuangan dan keberaniannya begitu menginspirasi banyak orang untuk merawat persaudaraan lintas iman di mulai dengan sadar dan peka terhadap kebutuhan masyarakat di sekitar tempatnya tinggal. Semoga apa yang dilakukan Yanti mampu membuka mata dan hati kita untuk melakukan hal yang sama ke depannya. **yst

Sumber:
http://maarifinstitute.org/id/maarif-award/penerima-maarif-award/1/penerima-maarif-award-2008—-cicilia-yuliati-hendayani
http://m.hidupkatolik.com/index.php/2013/04/25/bermodal-tabungan-pribadi-membangun-banyu-urip

Bagikan

Komentar Anda

komentar