Ada cerita kebersamaan di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Di desa ini penduduknya terbilang beragam. Agama yang dianut warga Desa Krisik cukup majemuk. Agama Islam, Hindu, dan Kristen berkembang baik di desa itu. Selama ini, mereka hidup rukun berdampingan dalam keragaman itu.

Satu momennya pada Sabtu pagi (20/7). Warga lintas agama bahu membahu kerja bakti membangun tebing di bawah bangunan pura. Lebih dari 200 orang terlihat berbaris memanjang di areal persawahan di bawah bangunan Pura Agung Arga Sunya, Desa Krisik. Dengan cara estafet, warga memindahkan material batu yang menumpuk di pinggir jalan ke bawah bangunan pura. Para pria baik muda dan tua tampak saling bahu membahui tanpa ada batasan.

Satu dua warga lainnya terlihat memecah batu ukuran besar menjadi bagian kecil-kecil menggunakan palu. Mereka tampak kompak dan guyub rukun di lokasi. Hari itu Desa Krisik itu sedang kerja bakti memindahkan material batu untuk pembangunan tebing di bawah bangunan Pura Agung Arga Sunya yang longsor di tahun lalu.

Warga yang bergotong royong merupakan jamaah masjid, musala, dan yasin serta gereja di empat dusun dalam desa itu. Mereka dikerahkan untuk ikut kerja bakti pembangunan tebing Pura yang longsor.

Kerja bakti ini melibatkan semua komponen di Desa Krisik. Mulai umat Islam, Hindu, dan Kristen,” kata Pengurus Pura Agung Arga Sunya, Desa Krisik, Suwari (50).

Menurut Suwari, kegiatan semacam itu sebenarnya sudah menjadi tradisi sejak dulu di Desa Krisik. Para warga saling bahu membahu ketika ada warga lain sedang ada kerepotan. Sebaliknya, ketika warga muslim sedang ada kegiatan, para umat Hindu juga ikut membantu. “Waktu pembangunan masjid, para umat Hindu juga ikut bergotong royong. Suasana kerukunan ini yang terus kami rawat di desa sini,” ujarnya.

Pura Agung Arga Sunya sendiri dibangun pada 2001 dan selesai pada 2003. Peresmian Pura dilakukan oleh Imam Muhadi, bupati Blitar waktu itu. Di Desa Krisik terdapa enam bangunan Pura. Dari enam bangunan Pura, Pura Agung Arga Sunya menjadi pusat ketika ada perayaan agama umat Hindu di Desa Krisik. Pada November 2018 lalu, tebing di bawah bangunan Pura longsor. Pengurus baru bisa melakukan perbaikan tebing yang longsor pada Juni 2019.

Salamun (65), takmir Masjid Al Falah, Dusun Wonorejo, Desa Krisik, mengatakan kegiatan ini sebagai bentuk menjaga kerukunan antar-umat beragama di Desa Krisik. Rasa gotong royong dan saling membantu sesama itu sudah menjadi tradisi di Desa Krisik.

Ketika malam takbiran Idul Fitri, ketika umat muslim melakukan pawai obor, warga umat Hindu juga ikut membantu mengatur arus lalu lintas. Kami saling mengisi,” kata Salamun.

Kepala Dusun Tirtomoyo, Anang Sugianto mengatakan semua warga ikut terlibat ketika ada kerja bakti pembangunan tebing Pura. Mulai dari jamaah masjid, musala, dan karang taruna, semua terlibat. Biasanya, informasi soal kerja bakti disampaikan usai salat jamaah maupun usai kegiatan yasinan.

Sumber: tribunnews

Bagikan

Komentar Anda

komentar