Ada banyak hal yang menjadi refleksi bagi ribuan peserta yang hadir di acara Bandung Guyub Sabtu lalu (1/6). Momen itu ada di hari-hari akhir jelang berakhirnya puasa Ramadan, namun sekaligus juga momen menghayati kembali hari lahirnya Pancasila. Namun di hari yang sama, rakyat Indonesia juga tengah berduka, saat melepas kepergian mantan ibu negara, Ibu Ani Yudhoyono.

Hal-hal tadi menjadi titik tolak refleksi yang disampaikan oleh Kiagus Zaenal Mubarok dalam tausyiah jelang buka puasa. Dalam tausyiahnya, Kiagus menyampaikan betapa manusia perlu terus mawas diri atas segala lakunya. Untuk selalu menyadari seberapa banyak kebaikan yang telah ditebarkannya bagi sesama. Sebab kita tidak tahu, kapan tugas dan karya kita berakhir di dunia. Bulan Ramadan, menurut Kiagus, merupakan momen yang paling tepat untuk merefleksikan hal tersebut.

Lebih jauh, ketua Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) ini juga mengajak kembali peserta untuk menghayati anugerah Tuhan untuk Indonesia. Bagaimana Pancasila menjadi titik temu di tengah keragaman suku, agama dan kelompok yang ada di negeri ini.

Ini anugerah yang perlu terus kita jaga dan pelihara. Jangan sampai dirusak oleh berbagai fitnah, hoax dan ujaran kebencian,” Kiagus mengingatkan.

Bandung Guyub di gelar di Jl. Sukarno Bandung. Kegiatan ini meliputi permainan kreatif, membatik masal, bazar murah, konseling pengobatan gratis, gelar budaya kebangsaan, sholawatan, buka puasa bersama dan doa lintas agama untuk negeri.

Hadir dalam acara tersebut Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Irman Sugema, S.I.K, M.H, wakil wali kota Bandung, Yana Mulyana, Dandim 0618-BS, Kolonel Inf Sugiyono, PJU, Para Kapolsek Jajaran Polrestabes Bandung, Para Danramil Jajaran Kodim 0618/BS dan sekitar 1000 orang dari berbagai komunitas, ormas dan komponen masyarakat lainnya, termasuk para tokoh lintas agama. **arms

Komentar Anda

komentar