Sebagai negara yang kini dihuni umat beragam agama, Bahrain ingin menyebarkan toleransi ke seluruh dunia. Mereka ingin memberi contoh bagaimana negara Muslim, yang dapat menyebarkan visi toleransi ke negara-negara lain. Untuk memperkenalkan toleransi tersebut, Kementerian Luar Negeri Bahrain meresmikan King Hamad Chair in Interfaith Dialogue and Peaceful Co-existence di Universitas Sapienza, Roma, Italia.

Mohammed Ghassan Shaikho, Duta Besar Bahrain untuk Indonesia, mengatakan peresmian dialog antaragama ini sebagai langkah untuk mengeksiskan kembali toleransi di tengah masyarakat dan budaya yang berbeda.  “Langkah ini juga dianggap sebagai perwujudan dari keterbukaan Bahrain ke seluruh dunia karena melakukan peran aktif dalam meningkatkan pemahaman, komunikasi dan dialog,” tuturnya di Jakarta, Kamis (6/12)

Duta besar Shaikho menegaskan inisiatif negara pulau di Teluk Persia ini dapat memberikan efek yang luar biasa dalam kehidupan bermasyarakat. Tak hanya itu, Bahrain juga ingin agar masyarakat melakukan dialog positif.

Inisiatif ini dinilai sejalan dengan yang telah dilakukan Indonesia selama ini. Indonesia dikenal sudah sekian lama membangun dialog antaragama di berbagai bidang. Bahkan, yang terakhir aadalah untuk memperkenalkan Islam jalan tengah yang baik untuk semua umat beragama.

Melihat latar belakang itu, Bahrain berharap dapat melakukan kerja sama lebih dengan Indonesia di bidang ini. “Kami selalu bekerja sama dan saling menghargai sehingga kami beroleh hasil yang memuaskan. Karena Indonesia merupakan negara yang toleransinya sangat tinggi. Jadi saya merasa ada kesamaan antara Indonesia dan Bahrain,” tutur dia.

Shaikko juga melanjutkan dengan runtutan peristiwa sejak September 2017 di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), dikeluarkan Bahrain Declaration mengenai Interfaith Dialogue and Peaceful Co-existence. Isi dokumen tersebut adalah untuk memerangi terorisme dan ekstremisme di dunia, serta memajukan moderasi, toleransi dan perdamaian.

Dokumen tersebut secara langsung digagas Raja Hamad bin Isa Al Khalifa sendiri. “Prinsip ini yang menjadi awal berdirinya toleransi di Bahrain, di bawah kepemimpinan Raja Hamad,” pungkas Shaikko.

Kerajaan Bahrain saat ini memiliki populasi sekitar 1,3 juta penduduk, dengan lebih dari separuhnya merupakan penduduk non-nasional yang datang dari berbagai negara, yang tentunya memiliki latar agama yang berbeda-beda. Meski demikian, Bahrain juga memiliki sejarah panjang toleransi, karena selain dihuni oleh warga nasional yang umumnya beragama Islam, kerajaan ini juga punya komunitas kecil warga nasional Kristiani yang telah ada lebih dari seribu tahun lalu.

Sumber: medcom.id

Komentar Anda

komentar