Minggu Adven bagi umat Protestan dan Katolik adalah awal tahun gerejawi, sekaligus masa-masa persiapan menjelang Natal. Di momen ini, biasanya gereja sudah mulai semarak dengan sejumlah ornamen hiasan yang berwarna ungu dan berbagai kegiatan penyambutan momen perayaan kelahiran Kristus. Namun, ada yang unik di Minggu adven pertama (2/12) di Gereja Protestan Maluku (GPM) Imanuel Amahusu Ambon.

Ada azan yang bergema mengajak umat beribadah. Di altar gereja jemaat GPM Imanuel Amahusu Ambon, imam dari negeri gandong Tial membuka Ibadah Orang Basodara Minggu lewat lantunan azan. Suara azan yang mengalun lembut itu seketika menenangkan jemaat yang mulai mempersiapkan diri untuk beribadah minggu. Ratusan orang yang datang begitu khusyuk menaikan doa hingga ada yang meneteskan air mata.

Satu dari empat lilin adven dinyalakan sebagai tanda masuk minggu jelang kelahiran Yesus Kristus. Usai azan, rangkaian ibadah dalam ritus Protestan itu pun dimulai. Ada seruan-seruan beribadah, kidung-kidung pujian dinyanyikan oleh jemaat yang hadir.

Tak hanya warga negeri Ahamusu, warga dari dua negeri saudaranya yang Muslim, Laha dan Tial, serta negeri saudara Kristen, Hatalae hadir memadati bangku-bangku panjang gereja. Mereka duduk bersama dalam satu atap pada ibadah pagi pukul 09.00. Pemandangan yang amat langka dan mungkin jarang terlihat di Indonesia. Simbol-simbol agama dalam pakaian, nyanyian, serta kidung-kidung tak memberi sedikitpun sekat bagi empat negeri saudara ini.

Ini adalah contoh hidup bagaimana konsep pela gandong menubuh dalam kehidupan masyarakat. Pela gandong merupakan perjanjian luhur dimana dua atau lebih negeri di Maluku, meski berbeda agama, saling mendapuk diri sebagai saudara.

Negeri Amahusu adalah kampung kecil di Kecamatan Nusaniwe di Teluk Ambon Bagian Luar. Warga kampung ini, bersama tiga negeri saudara mereka Laha, Tial dan Hatalae, memberi pembuktian bagaimana toleransi dan keberagaman adalah bagian dari denyut kehidupan keseharian mereka.

Dimanakah perbedaan kita? Lihatlah bagaimana orang Amahusu bisa terima ada azan di gereja begitu juga sebaliknya,” demikian sepenggal tanya dalam khotbah yang dibawakan Pdt. Sammy Titaley dari GPM. Bagi Pdt. Sammy pertikaian agama acap kali didebatkan hanya karena cara yang berbeda. Padahal disitu ada pujian dan pengakuan akan kebesaran Tuhan. Menurutnya kedamaian sangat mungkin terwujud dengan kuat, meski di tengah perbedaan, asalkan kita bisa menganggap orang lain sebagai saudara.

Sumber: terasmaluku.com

Komentar Anda

komentar