Seliweran media sosial di Aksi 112 kemarin (11/2), juga menonjolkan sisi humanis yang wajar timbul dari tiap orang. Lagi-lagi ada cerita soal pengantin yang mau melangsungkan pemberkatan pernikahan di Gereja Katedral Jakarta, namun harus menembus kerumunan orang yang melakukan aksi. Syukur, tidak ada insiden. Upaya mereka melewati keramaian, justru dibantu oleh saudara sebangsa yang tengah menyampaikan aspirasinya di aksi tersebut.

Kalau di Aksi 411 itu adalah cerita pasangan Andreas Gunawan dan Wiwit Margaretta, maka di 112 kali ini, ada Asido dan Felicia. Kedua pasangan muda ini adalah potret kebanyakan kebutuhan warga Jakarta. Mereka hanya butuh hidup tenang, membangun keluarga dan berkarya. Mereka tentu tidak menduga tanggal pernikahan yang mereka rancang sejak lama, ternyata bersamaan dengan aksi tersebut.

Kebanyakan rekan-rekan yang pro pada aksi tersebut membagikan beritanya dengan heroik. Menunjukkan bahwa umat, sekalipun tersinggung, marah dan punya tuntutan, toh tetap bisa berkepala dingin. Tidak sembarang merusak. Tetap bisa menunjukkan wajah beragama yang toleran.

Sementara, orang yang kurang menyetujui diadakannya aksi seperti itu, umumnya tidak terlalu menanggapi. Meski ada juga yang mencoba fair dan memberi apresiasi.

Asido sendiri, sama seperti Andreas di 411, memberi komentar yang menunjukkan rasa syukur.

Saya merasa excited dengan aksi ini, sangat toleransi. Dan saya dikawal dengan massa sampai sini (Gereja Katedral),” ujar pria tersebut sebagaimana dikutip Liputan 6. Cerita Asido-Felicia memang lebih dramatis. Saat berjalan di tengah gerimis, mereka bahkan dipayungi oleh peserta aksi. Baik pasangan, rekan-rekan yang mengiringi, maupun peserta aksi, saling menunjukkan senyum ramah.

Kalau mau jujur, tentu saja ada hal-hal yang tetap perlu dikritisi dari momen yang newsable ini.

Pertama, sebenarnya adalah fakta, peserta aksi memang menghalangi kegiatan warga lain. Felicia dan Asido, serta seluruh undangan seharusnya bisa memarkir kendaraan di sekitar Katedral, tidak perlu berjalan jauh. Demikian pula sejumlah orang lain, yang di hari itu punya kepentingan mobilitas di sekitar Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.

Demonstrasi untuk menyuarakan aspirasi memang bebas dilakukan di negara kita. Namun adalah kewajiban demonstran untuk tidak menghalangi hak warga lain. Kalaupun penghalangan itu terpaksa terjadi, sudah selayaknya mereka minta maaf dan membantu mementingkan hal-hal tertentu seperti pernikahan Felicia-Asido ini. Maka ditinjau dari hal ini, sebenarnya yang dilakukan peserta aksi terhadap Asido-Felicia sudah merupakan kewajiban, bahkan sudah seharusnya didahului permintaan maaf.

Kedua, potret damai ini tentu tidak boleh dijadikan penghapus apalagi pembenar tindakan intoleran. Pemukulan pada awak media, serta seruan-seruan intoleran adalah bagian yang sayangnya tetap ada dalam aksi tersebut. Hal tersebut tentu tidak boleh ditutupi oleh potret damai. Meski kita juga harus fair dalam menunjukkan kedua sisi ini.

Ketiga, yang lebih konseptual, sepertinya memang ada logika yang harus diluruskan dalam memaknai toleransi. Bayangkanlah kita menjadi Asido dan Felicia. Meski kita patut meyakini mereka tersenyum dan berkomentar positif dengan tulus, tapi secara logis, apakah hal lain yang bisa ia lakukannya di tengah kerumunan massa seperti itu?

Toleransi hendaknya tidak dimaknai sebagai kelonggaran yang diberikan oleh orang yang ‘lebih berkuasa’ agar yang ‘kurang berkuasa’ bisa lebih lega sedikit. Toleransi bukanlah ‘kebaikan hati’ mayoritas yang harus berbalas ‘ketahudirian minoritas’. Bukan!

Toleransi wajib dimaknai dalam kerangka kesetaraan. Bukan soal lebih berkuasa siapa atau lebih mayoritas siapa. Toleransi seyogianya adalah upaya saling memahami dan menghargai, yang muncul dari kesadaran tiap individu akan kesetaraan martabat seluruh umat manusia. Apapun agama, ras, etnis, posisi sosial atau identitas lain yang menyemat padanya

Di balik semua kritisi tadi, tak patut melulu memberi komentar sinis atas potret damai di Aksi 112 ini. Potret damai Felcia dan Asido dipayungi oleh orang-orang bersorban dan berjubah putih adalah harapan. Bahwa di tengah sengitnya perbedaan dan pertentangan, kita tetaplah saudara sebangsa. Tetaplah manusia, yang punya empati kemanusiaan di relung hati kita terdalam. Sisi ini yang kita yakini belum akan hilang, bahkan bisa jadi kekuatan untuk saling belajar hidup dalam toleransi dan perdamaian di masa depan. **am

Komentar Anda

komentar