Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa apabila sebuah perusahaan memecat pegawai karena yang bersangkutan gay atau transgender, maka perusahaan tersebut telah melanggar hukum hak-hak sipil warga negara.

Dalam putusannya, Mahkamah Agung mengatakan hukum federal bukan hanya melarang diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, tapi juga orientasi seksual dan identitas gender.

Ini merupakan kemenangan terbesar bagi semua pegawai LGBT dan penyokong mereka. Dan ini terjadi saat MA dinilai lebih condong ke arah konservatif.

Tim kuasa hukum dari pihak pengusaha berpendapat, Undang Undang Hak Sipil 1964 tidak menyebutkan perlindungan pekerja terkait dengan identitas gender dan orientasi seksual. Pemerintahan Presiden Donald Trump juga memihak pendapat ini.

Namun, Hakim Neil Gorsuch, mengatakan pemecatan terhadap seorang pegawai harus juga memperhitungkan jenis kelamin.

“Seorang pengusaha yang memecat seseorang karena dia homoseksual atau transgender, memecat karena perilaku dan tindakannya, tidak akan mempertanyakan perilaku dan tindakan orang dari jenis kelamin lain,” kata hakim yang dicalonkan oleh Presiden Donald Trump.

Anggota komunitas LGBT di seluruh Amerika Serikat merayakan keputusan ini.

‘Hari yang sangat emosional’
Sean K Heslin, Palm Springs, California

Hari ini, keputusan Mahkamah Agung membuat air mata saya berlinang.

Sebagai seorang gay yang beruntung tinggal di California dan berasal dari New York, saya tak pernah khawatir kehilangan pekerjaan atau tidak dipekerjakan hanya karena orientasi seksual saya.

Tapi sebagai penasihat keuangan yang bekerja untuk klien-klien di berbagai negara selama lebih dari 30 tahun, saya pernah mendengar cerita-cerita orang yang kehilangan pekerjaannya hanya karena dia gay. Ini membuat saya marah dan sedih berlarut-larut.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya telah berbicara dalam seminar-semintar atau dengan teman, dan keluarga tentang bagaimana hari ini dan zaman ini masih wajar memecat orang hanya karena mereka gay.

Banyak orang tidak percaya pada saya. Sampai hari ini.

Apa maksud dari putusan MA?
Pada Bagian VII dari Undang Undang Hak Sipil 1964, perusahaan dilarang melakukan diskriminasi terhadap pegawai atas dasar jenis kelamin yang dikenal dengan gender, ras, warna kulit, kebangsaan, dan agama.

Di bawah Pemerintahan Presiden Barack Obama, Komisi Kesetaraan dan Kesempatan Kerja yang mendorong aturan anti-diskriminasi, mengatakan aturan ini semestinya memasukkan unsur identitas gender dan orientasi seksual. Tapi Pemerintahan Trump mencabut perlindungan di bidang kesehatan dan lainnya dari pegawai LGBT.

Sebagian negara bagian di AS sudah menerapkan perlindungan kepada pekerja LGBT, tapi banyak juga yang belum melakukannya.

Bagaimana reaksi kelompok LGBT?
Para pendukung LGBT mengatakan keputusan yang diambil Mahmakah Agung ini akan mengakhiri penyembunyian identitas seksual seseorang yang selama ini tidak terungkap di tempat kerja.

“Khususnya di saat pemerintahan Trump mencabut hak-hak kelompok transgender dan kekerasan anti-transgender berlanjut untuk menghancurkan negara kita, keputusan ini merupakan langkah maju untuk menguatkan kehormatan kelompok trangender dan seluruh orang-orang LGBTQ,” kata pemimpin organisasi pemerhati hak kelompok LGBT, GLAAD, Sarah Kate Ellis.

Unjuk rasa di depan gedung Mahkamah Agung Amerika Serikat tahun lalu/Getty Images.

Serikat Kebebasan Sipil Warga Amerika (ACLU) membagikan pernyataan salah satu penggugat dari kelompok transgender, Aimee Stephens, yang telah meninggal bulan lalu. Perkaranya adalah kasus hak-hak sipil transgender pertama terbesar yang disidangkan oleh Mahkamah Agung.

“Saya senang pengadilan mengakui bahwa apa yang terjadi pada saya adalah salah dan ilegal,” kata Stephens. “Saya berterima kasih, bahwa pengadilan mengatakan saudara-saudara transgender saya dan saya punya tempat di hukum kita – ini membuat saya lebih aman dan terlibat dalam lingkungan sosial.”

Di sisi lain, Aliansi Pembela Kebebasan, sebuah organisasi nirlaba konservatif, mempertanyakan mengapa pengadilan telah menerima permohonan para penggugat.

Organisasi ini mengaku kecewa. Mereka mewanti-wanti, putusan ini akan “menciptakan kekacauan dan ketidakadilan yang besar untuk perempuan dan anak perempuan di bidang olahraga, tempat perlindungan perempuan, dan dalam banyak konteks”.

Apa yang dikatakan pengadilan?
Dalam pendapatnya, Hakim Gorsuch mengatakan hal-hal seperti itu tidak ditangani pengadilan.

“Satu-satunya pertanyaan bagi kami, adalah apakah seorang pengusaha yang memecat pekerjanya karena dia homoseksual atau transgender telah mengeluarkan atau mendiskriminasinya ‘karena jenis kelamin individu tersebut'” tulisnya.

Jawabannya, kata dia, “jelas” – walapun kasus itu mungkin bisa diantisipasi ketika aturan ini ditulis.

“Sangat mustahil untuk melakukan diskriminasi terhadap seseorang karena dia homoseksual atau transgender tanpa melakukan diskriminasi berbasis pada jenis kelamin individu,” tulisnya.

Namun, tiga hakim konservatif menentang keputusan ini: Samuel Alito, Clarence Thomas dan Brett Kavanaugh.

Bagaimana kasus ini berawal?
Keputusan pengadilan ini telah menuntaskan tiga kasus yang diajukan oleh orang-orang yang mengaku dipecat, setelah perusahaan mengetahui mereka gay dan transgender.

Stephens sebelumnya mengatakan dirinya seorang laki-laki saat bekerja selama enam tahun di kantornya. Sampai akhirnya ia menulis sebuah surat kepada koleganya, dan mengatakan ia akan kembali bekerja “sebagai diri saya yang sebenarnya, Aimee Australia Stephens, dalam pakaian bisnis yang sesuai”.

Dua minggu kemudian, Stephens dipecat karena mengenakan pakaian perempuan selama bekerja di kantor.

Dalam sebuah arsip pengadilan tahun lalu, pemilik rumah pemakaman meminta Stephens untuk mematuhi cara berpakaian “yang pantas untuk tubuh biologis Stephens”. Pengadilan tingkat bawah memenangkan pendapat Stephens.

Donald Zarda, seorang pelatih terjun payung dari New York meninggal dalam kecelakaan pada 2014, juga ikut ambil bagian dari kasus yang digugat ke Mahkamah Agung.

Dia dipecat setelah bercanda dengan seorang klien perempuan. Saat itu Zarda tendem terjun payung, dan mengatakan tidak perlu khawatir dengan kedekatan kontak tubuh selama pelatihan karena dia mengaku “100% gay”

Perusahaan menyatakan, Zarda dipecat karena telah membagikan informasi personal kepada seorang klien, bukan karena dia gay, tapi sebuah pengadilan di New York memutuskan untuk mendukungnya.

Gerald Bostock, mantan kordinator layanan kesejahteraan anak dari Gerogia, kehilangan pekerjaan setelah bergabung dalam acara rekreasi liga softbal kelompok gay, yang secara terbuka mengungkapkan orientasi seksualnya.

Bosnya, Clyaton County mengatakan Bostock dipecat karena hasil “melakukan hal yang tidak pantas sebagai pegawai daerah”. Kasus Bostock kandas di pengadilan federal Atlanta.

Momen-momen bersejarah LGBT di Amerika Serikat

  • Januari 1958 – Mahkamah Agung Amerika Serikat untuk pertama kalinya memutuskan mendukung hak-hak LGBT, dengan mengatakan bahwa majalah LGBT yang sebelumnya dianggap cabul oleh FBI dan layanan pos, memiliki hak konstitusi.
  • Juli 1961 – Illinois menjadi negara bagian pertama Amerika Serikat yang tidak mempersekusi homoseksual.
  • Juni 1969 – Gerakan hak-hak LGBT diyakini dimulai sejak kepolisian merazia Stonewall Inn, New York City, yang memicu unjuk rasa.
  • September 1996 – Presiden Clinton mendefinisikan pernikahan sebagai satu kesatuan antara “satu pria dan satu wanita”
  • Juni 2003 – Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan hukum sodomi tidak kontitusional
  • Oktober 2009 – Presiden Barack Obama menanda tangani aturan Matthew Shepard dan James Byrd Jr Hate Crimes, memperluas cakupan hukum ujaran kebencian yang melibatkan orientasi seksual.
  • Juni 2015 – Sebuah keputusan penting, Mahkamah Agung melegalkan perkawinan sesama jenis kelamin di seluruh negara bagian Amerika Serikat.
  • Juni 2016 – Pentagon mencabut larangan transgender tak boleh terlibat dalam militer.
  • Maret 2018 – President Donald Trump mengeluarkan kebijakan melarang transgender ikut terlibat di sektor militer.

Sumber: tempo

 

 

 

Komentar Anda

komentar