Di sebuah negara yang sejak awal berdirinya mengakui keberagaman, angan-angan kerukunan selalu saja tidak kesampaian. Seperti Sisiphus, bangsa ini mengalami peningkatan penghargaan terhadap keberagaman, tetapi tidak sampai mampu menghidupi kerukunan antarumat beragama. Ketika obor nasionalisme menerangi di suatu masa, api intoleransi tidak kunjung berhenti menyulut emosi umat. Alhasil urusan ini menguras energi yang tidak sedikit. Energi positif untuk membangun negeri yang lebih makmur dan sejahtera habis oleh urusan beragama yang kian merepotkan.

Keberagaman sebagai fakta sosial tentu saja tidak dapat kita bantah. Keberagaman itu tidak lagi membutuhkan penegasan panjang lebar, sebab sudah ada secara niscaya, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Karenanya, krisis kita hari ini tidak patut bernama krisis keberagaman, tetapi krisis toleransi. Kita mengalami krisis dalam menemukan simpul bersama yang membantu kita memandang keberagaman sebagai berkah Ilahi sekaligus pegas bagi proyek sosial yang menarik dalam hidup setiap hari.

Berbagai macam peristiwa intoleransi saat ini memaksa kita untuk memikirkan kembali adanya agama. Jika agama adalah wadah umat manusia yang hampir setiap saat mengadakan ibadah kepada Tuhan, mengapa justru ada kekerasan terhadap sesama manusia? Mengapa agama menjadi monade yang memisahkan diri manusia satu dari yang lain? Mengapa ia menghambat proses transendensi diri manusia untuk menjadi semakin sosial dan beradab? Dan mengapa orang beragama gemar mengembuskan roh permusuhan demi meraup keuntungan dari situasi tersebut?

Di dalam agama-agama, terkumpul makhluk-makhluk insani yang menganggap Tuhan sebagai panji yang memandu hidup. Tuhan yang menakjubkan sekaligus menggentarkan (fascinosum et tremendum, Rudolf Otto), diakui sebagai Yang Ilahi, pembawa kedamaian, penerang dalam kesesatan, pencipta dan penjamin keindahan, serta inspirasi solidaritas kepada sesama manusia. Tetapi atas nama Tuhan yang sama, ada permusuhan dan pembunuhan, terorisme dan kebencian, ambisi menguasai yang lain dan penghancuran terhadap martabat manusia. Apa sebenarnya yang menjadi sebab?

Klaim Kebenaran

Kesibukan orang beragama hari ini adalah bekerja untuk mempertahankan kebenaran agamanya. Meski pada satu sisi kita hidup dalam dunia yang serba beragam, mulai dari pikiran yang berbeda-beda sampai ekspresi lahiriah yang tidak pernah sama satu dengan yang lain, kesibukan untuk menjunjung tinggi kebenaran agama sendiri selalu melelahkan. Memang tidak bisa dielak bahwa setiap agama memiliki kebenarannya masing-masing. Sikap mempertahankan kebenaran secara radikal juga tidak keliru.

Radikalitas dalam menjaga akar-akar kebenaran agama tentu saja perlu agar arah hidup spiritual tidak terbengkalai. Sikap mempertahankan kebenaran menjadi soal bukan ketika kita menjadi radikal dalam agama kita. Persoalan muncul ketika klaim kebenaran itu dibarengi dengan upaya meniadakan yang lain. Kendati yakin bahwa agama kita sendiri memiliki kebenarannya tersendiri, mengapa kita sangat sulit mengakui bahwa orang lain juga memiliki kebenaran yang dianutnya?

Klaim kebenaran menjadi petaka ketika kita hidup sesuai panji keagamaan purba yang bermisi mencari semakin banyak anggota. Sedangkan di zaman post-modern, setiap insan memiliki pengertiannya masing-masing tentang agama dan manfaatnya bagi diri mereka masing-masing. Kita terlalu militan dan merasa wajib untuk menyebarkan kebenaran yang kita yakini dengan cara merendahkan bahkan mematikan kebenaran lain. Sikap absolut seperti ini hanya menghendaki pengusungan satu kebenaran tunggal, kejamakan dianggap kriminal yang harus dihentikan dan diberangus.

Klaim kebenaran agama seringkali tampil sebagai syahwat menguasai yang lain. Setelah merasa paling benar, kita merasa wajib untuk membawa yang lain menuju kebenaran yang sama dan seragam. Libido untuk menguasai yang lain berasal dari perasaan paling benar atau paling dekat dengan Tuhan. Dengan alasan tersebut, orang lain perlu tunduk pada kebenaran yang kita yakini dan melepaskan keyakinannya. Padahal kita semua tahu bahwa tidak semua orang memiliki keyakinan yang seragam.

Mereka yang Diuntungkan

Dalam ruang bangsa ini, perasaan dekat dengan Tuhan (perasaan paling benar) sangat gampang tersulut menjadi emosi negatif yang destruktif. Jika terdapat suatu isu yang bersifat “mengganggu”, api emosi massa begitu mudah menyala menjadi aksi demonstrasi besar-besaran dengan dalih membela nama Tuhan. Bukannya Tuhan dipandang sebagai Yang Ilahi dan selalu membantu manusia yang bersusah, Ia malah dikenakan baju kelemahan lantas dibantu oleh manusia.

Akibat clash antarmanusia, Tuhan dianggap sebagai yang lemah dan tidak berdaya. Pasal penistaan atau penodaan agama pun sangat laris dibicarakan di meja hijau dan disorakkan di arena demonstrasi.

Di atas permusuhan antarumat beragama, berdiri oknum-oknum yang mengambil keuntungan lantas merayakan permusuhan tersebut sebagai berkah. Tawa mereka meledak ketika umat manusia berhasil dikumpulkan dalam kotak-kotak terpisah yang saling membenci dan meniadakan. Kebencian berdasarkan agama menjadi berkah bagi mereka dalam mendulang suara di pemilu. Emosi yang meluap-luap pada sesama yang lain diekspresikan dengan memilih oknum yang menjanjikan proyek yang sama; menolak keberadaan yang lain itu.

Selepas pemilu, oknum pengadu domba ternyata duduk di atas tahta yang sama, sedangkan kita yang sudah tersulut emosi tetap miskin dan tidak memiliki apa-apa. Tidak ada hasil untuk kita yang bermusuhan dan saling membenci dari kebencian dan permusuhan tersebut. Sayangnya kita tak kunjung sadar bahwa oknum-oknum tersebut sedang dan selalu mengalihkan pandangan kita dari ketidakadilan, kemiskinan, dan ketimpangan yang mereka perbuat.

Kita tidak sadar bahwa mereka hanya ingin kita saling membenci agar lupa bahwa masalah ketidakadilan, kemiskinan, dan ketimpangan yang terjadi sebenarnya disebabkan oleh oknum-oknum tersebut.

Betapa runyamnya hidup beragama di bumi manusia Indonesia ini. Kendati setiap hari berhadapan dengan fakta keberagaman, kita tak kunjung berhasil mengakui itu sebagai fakta yang niscaya. Kita lalu melelahkan diri dengan berupaya mengobok-obok rasa damai dengan ujaran kebencian yang disertai tindakan kekerasan. Ketidaksadaran ini tentu saja menjadi keuntungan besar bagi mereka yang menginginkan kekuasaan, sebab dengan menambah besar kebencian dan permusuhan di sekitar kita, mereka akan terus langgeng di atas singgasana kekayaannya.

Dengan ini kita dapat menemukan akar mengapa ada imbauan untuk tidak mengucapkan salam kepada saudara-saudari yang beragama lain. Selain karena merasa diri paling benar, itu juga bisa jadi adalah umpan bagi permusuhan yang berkelanjutan demi keuntungan oknum-oknum terkait.

 

Sumber : detik.com

 

Komentar Anda

komentar