Pagi tadi, Rabu (19/9) Alissa Wahid datang sebagai pembicara dalam acara power breakfast Femina yang berlangsung di Gedung Femina, Kuningan. Alissa mengangkat topik hangat, yaitu tentang toleransi dan intoleransi di masyarakat.

Alissa mengingatkan bahwa hal yang menjadi perhatiannya beberapa tahun lalu itu, belakangan menjadi sebuah tantangan. Ada banyak kasus intoleransi atas nama agama yang terjadi di masyarakat. “Saya masih optimis hingga saat ini. Karena apa yang terjadi setahun belakangan ini seperti wake up call untuk orang Indonesia, ketika kita memilih untuk berdiam diri yang terjadi justru nilai-nilai intoleransi ini semakin kuat,” ungkap perempuan lulusan Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.


Sejenak menjelaskan data, Alissa mengutip penelitian tentang intoleransi beragama yang dilakukan CSIS di 22 kota besar di seluruh Indonesia. Atas pertanyaan: “Percayakah Anda dengan orang yang berbeda agama?” Sekitar 25% responden menjawab ‘tidak percaya’. Sedangkan 60% lainnya menjawab ‘harus waspada’. Hanya 15% responden yang tidak melihat kesamaan agama sebagai pengukur dalam mempercayai seseorang.

Hasil ini bisa menjadi pengingat kita bahwa ada perubahan nilai di masyarakat yang terjadi dalam hal intoleransi agama. “Ini jauh lebih berbahaya karena mengubah struktur dan nilai kemasyarakatan,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan tentang enam hal yang mendorong penguatan faham intoleransi di masyarakat belakangan ini. Pertama, meningkatnya jumlah insiden kekerasan dan intoleransi sejak 10 tahun belakangan. Kedua, meningkatnya jumlah legislasi yang rentan diskriminasi. Ada 430 Perda (Peraturan Daerah) yang berpotensi mendiskriminasi wanita dan anak-anak. Ketiga, menguatnya pratek intoleransi dari masyarakat karena munculnya sikap ekstrim dalam beragama. Hal ini didorong juga oleh meningkatnya sikap eksklusivitas.

Keempat, walaupun Indonesia memiliki prosedur demokrasi lengkap, namun dalam pelaksaan prinsip demokrasi masih lemah. Prinsip demokrasi ‘dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat’ dalam hal ini hak individu belum terpenuhi. Kelima, meningkatnya kelompok pendukung kekerasan. Dan keenam, yang terakhir dan paling kencang terasa adalah meningkatkan konstelasi intoleransi adalah praktek politik yang berbasis kekuatan dan kapital.

Sayangnya, kita sebagai masyarakat, kerap merasa tidak dekat dengan masalah intoleransi ini. Karena adanya anggapan bahwa kekerasan agama hanya terorisme, padahal ada hal lain yang juga perlu disikapi yaitu intoleransi beragama,” kritik Alissa.

Masih ada Harapan
Kabar gembiranya, penelitian yang dilakukan Gusdurian beberapa waktu lalu menemukan fakta bahwa anak muda masih percaya pancasila, NKRI, dan demokrasi. Nilai-nilai keyakinan atas ke Indonesiaan masih tinggi. Ini artinya, semakin tinggi tingkat kepercayaan responden terhadap nilai demokrasi maka semakin sulit diajak untuk bersikap intolerant,” ungkap putri pertama Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid ini.

Fakta ini menjadi sebuah harapan, bahwa kita masih bisa membentuk penerus bangsa yang memiliki sikap toleransi. Di sinilah peran orang tua menjadi penting untuk membentuk jati diri anak.

Banyak orang tua yang kebingungan sendiri, merasa tidak mampu untuk membentuk jati diri anak-anaknya. Kalau orang tua tidak mengisi dignity anak mereka, maka ini akan diisi oleh siapapun yang ada di sekitar anak. Orang tua perlu menguatkan nilai-nilai kepada anak, termasuk nilai-nilai toleransi. Semakin kita mengingatkan anak-anak pada nilai-nilai yang baik maka semakin menguatkan anak-anak,” katanya.

Alissa pun mengajak agar kita sebagai masyarakat Indonesia tidak hanya berdiri di pinggir, tapi ikut ke tengah dalam hal menyuarakan toleransi. “Ayo bergerak! Kembalikan Indonesia sebagai mainstream toleran. Ada tempat menjadi ‘AKU’, tapi yang paling penting ada ruang untuk menjadi ‘KITA’,” tegas Alissa menutup ceramahnya.

Sumber: femina.co.id

Komentar Anda

komentar