Fam Kiun Fat masih sangat aktif berkegiatan. Di usianya yang baru lewat lima puluh enam tahun, ayah dua putra ini masih mengemban sejumlah tugas pelayanan di organisasi. Wakil Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Bandung dan Pengurus Majelis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN) Jawa Barat ini merupakan salah satu umat Khonghucu yang terbilang aktif di kegiatan lintas agama. Baik di FLADS, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), maupun Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB).

Sudah dari dulu soalnya semangat buat hal seperti ini,” tukas orang yang akrab disapa Akiun ini. Ia lantas menceritakan pengalamannya dahulu, yang tetap mengaku sebagai umat Khonghucu kendati ada di bawah represi rezim Orde Baru.  “Satu-satunya agama dunia yang mungkin ada di Indonesia, saya dikasih agama setrip,” kenangnya soal kolom agama di kartu identitas penduduknya dahulu.

Kesulitan ini juga dirasakan dalam beberapa hal lain, semisal dalam ekspresi ibadah, pendidikan dan perkawinan warga etnis Tionghoa. Akiun lantas aktif dalam advokasi terkait administrasi kependudukan dan perkawinan umat Khonghucu waktu itu. Tentu saja, tidak semua orang seberani dia dan rekan-rekannya. Beberapa mengalah dan memilih mengganti agama.

Tidak masalah sebenarnya. Lagi pula kita maklum, risikonya besar. Kalau kolom agamanya setrip, sering diasosiasikan dengan komunisme. Terus agak sulit di pendidikan, perkawinan dan pekerjaan. Banyak kok umat sekarang yang secara formal tidak beragama Khonghucu, tapi masih sangat peduli membantu kegiatan MAKIN,” jawab Akiun saat ditanya terkait pilihan yang diambil warga sepuh Tionghoa di zaman Orde Baru.

Wakil Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tionghoa (PPIT) Bandung ini lantas mencoba menjelaskan pandangan toleransi dari ajaran Nabi Kong Zi. Menurutnya, pengikut Ru Jiao (sebutan asali untuk ajaran klasik yang disempurnakan oleh Kong Zi) perlu untuk selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengedepankan etika. Maka tak heran jika prinsip-prinsip penting dalam ajaran Kong Zi bisa menyebar begitu luas, tidak terbatas hanya di daratan Tiongkok.

Sekarang di Indonesia pun, penganut Agama Khonghucu bukan hanya mereka yang dari etnis Tionghoa. Jadi sebenarnya terbuka. Namun kita memang tidak mengejar pertumbuhan kuantitas. Orang biasanya mengerti dulu ajarannya,” jelas Akiun sembari menyebut sejumlah sabda Kong Zi yang amat menjunjung toleransi seperti: “Ada pendidikan, tiada perbedaan,” dan “Di empat penjuru lautan, semuanya saudara.”

Secara khusus, pria kelahiran 19 Desember 1960 ini memang punya pengalaman menyikapi keberagaman di keseharian. Istrinya, Lili Dwilisa, adalah seorang penganut ajaran Buddha. Mertuanya bahkan merupakan salah satu tokoh Buddha di Jawa Barat. Dulu, ketika mereka akan menikah, sempat ada perdebatan apakah salah satu harus berpindah keyakinan. Namun ternyata tetap bisa diselesaikan dengan saling menghargai keyakinan masing-masing.

Sebelum upacara nikah kami diberkati secara Buddhis, lalu pernikahannya secara Khonghucu, tapi yang didaftarkan waktu itu tentu yang Buddha,” kenang Akiun. “Istri saya itu Buddhisnya Theravada lho, jadi kadang-kadang perkara menggeplak nyamuk atau membunuh kecoa saja bisa jadi debat agama,” candanya.

Akiun pun bercerita bagaimana di keseharian perbedaan itu justru jadi hal yang makin menguatkan keyakinan masing-masing.

Saya itu kan tiap hari Minggu mengantar istri dan anak ke Vihara. Ya, saya nggak mungkin kan sendiri di rumah? Akhirnya ya jadi rajin juga ke Kong Miao,” jelas Akiun sembari menyimpulkan bagaimana masyarakat sebenarnya sudah sangat terbuka menghidupi toleransi di keseharian. **arms

Komentar Anda

komentar