Tak terasa Bulan Ramadan kembali hadir ke pangkuan. Bulan penuh rahmat dan ampunan dengan segudang keistimewaan. Dia adalah bulan rajanya bulan, tentu tidak mungkin begitu saja kita akan lewatkan.

Namun, Ramadan ini menjadi terasa berbeda karena masih berada di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang telah berlangsung satu tahun lebih lamanya. Ini menjadi Ramadhan kedua bagi umat Islam di seluruh dunia di tengah pandemi Covid-19.

Mungkin selebrasi dan hingar-bingar semarak di dalam Ramadan kita kali ini akan berbeda dengan sebelum adanya pandemi karena berbagtai aturan protokol kesehatan yang wajib kita patuhi bersama. 

Lalu apa saja tradisi Ramadan di Indonesia khususnya yang akan terasa berbeda dan mungkin akan sulit kita rasakan bersama-sama di tahun ini? 

Berikut 5 tradisi khas Ramadan di Indonesia khususnya yang mungkin akan kita rindukan di tengah pandemi kali ini.

Pertama, Pawai Obor Menyambut Ramadan

Ilustrasi Pawai Obor Menyambut Ramadan. Sumber: AFP via benarnews.org

Di banyak tempat di Indonesia semarak menyambut Ramadan akan dirasakan bahkan beberapa minggu sebelum memasuki Ramadhan.

Puncaknya adalah malam sebelum hari pertama Ramadan yang bertepatan dengan hari pertama salat tarawih ditunaikan serta sidang itsbat yang memutuskan Ramadhan pertama adalah keesokan harinya, akan ada pawai bersama mengelilingi jalanan kampung-kampung ataupun arak-arakan di sepanjang jalan sambil mendengungkan asam-asma Allah SWT serta salawat kepada Rasulullah SAW. 

Biasanya juga akan diiringi dengan obor-obor dari bambu serta barisan anak-anak pengajian melantunkan berbagai senandung khas Ramadan ataupun puji-pujian kepada Allah Swt.

Panjangnya barisan pun akan terlihat mengular beriring dengan obor-obor yang tampak berjalan seperti gelombang dari kejauhan. Nuansa syahdu dan riang akan kita rasakan.

Bagi para perantau rindu akan kampung halaman akan semakin terasa, untungnya sekarang teknologi bisa lebih mendekatkan melalui Video Call dengan anggota keluarga di kampung halaman.

Baca juga:  Sejarah Masuknya Islam di Lembah Baliem, Papua, Ada Andil Presiden Soekarno

Pawai obor ini tentu akan sulit kita saksikan di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda khususnya di zona merah dan oranye yang benar-benar harus diperhatikan. 

Pemerintah dan pihak yang berwenang tentu akan melarang adanya kerumunan apalagi jika mengabaikan protokol kesehatan termasuk pawai obor ini.

Kedua, Buka Puasa Bersama

Ilustrasi Buka Puasa Bersama. Sumber: Anadolu Agency

Tradisi kedua ini tentunya telah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Buka bersama rekan-rekan sejawat, keluarga besar, dan hndai taulan adalah momen-momen yang tentu kita nantikan selama Ramadan.

Agenda saling silaturahmi, bertukar cerita, dan berbagi tentang berbagai hal tentu menjadi sebuah tradisi khas yang sayang untuk dilewatkan. Tak lupa juga buka bersama ini biasanya dipadukan dengan pengajian serta santunan kepada orang-orang yang membutuhkan tentu menambah khidmat pemaknaan akan Ramadhan yang selalu kita nantikan.

Kita tentu mengingat momen-momen dimana tempat pusat perbelanjaan riuh dan paneuh menjelang momen berbuka puasa, restoran-restoran pun berlomba memberikan diskon khusus untuk buka bersama dengan tambahan gratis takjilnya.

Meski beberap pihak tidak melarang buka bersama dilakukan, namun tetap saja kekhawatiran serta pelaksanaan protokol kesehatan menjadi isu tersendiri yang mesti kita pikirkan.

Risiko penularan virus Covid-19 tentu bukan hanya isapan jempol semata. Berkumpul dengan orang-orang dalam jumlah yang cukup besar tentu adalah salah satu jalan risiko penularan akan semakin besar.

Ya tampaknya momen Buka Bersama baik bersama teman kantor, handai taulan ataupun keluarga besar akan sangat mungkin kita lewatkan di Ramadan kali ini.

Alternatifnya mungkin bisa kita lakukan dengan buka bersama secara virtual dari rumah kita masing-masing meski dapat dipastikan rasa kebersamaan dan keriuhannya akan terasa berbeda dan tidak sama dengan biasanya.

Ketiga, Ngabuburit Bersama

Ngabuburit dengan Berbelanja di Pasar Beduk. Sumber: lintastungkal.com

Momen-momen menantikan waktu berbuka puasa dengan berbagai kegiatan seperti olahraga bersama, berburu takjil bersama di pasar beduk, ataupun dengan kegiatan kajian keagamaan di masjid dan pusat-pusat keagamaan bersama-sama tahun ini akan sulit kita lakukan.

Baca juga:  Guna Membantu Masyarakat, Taman Belajar Al-Afifiyah Bagikan Beras Sebanyak 6,5 Ton di Bulan Ramadan Ini

Aturan menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker, dan lain sebagainya mungkin bisa saja kita usahakan, namun tentunya pihak penyelenggara ataupun panitia serta pihak terkait lainnya tidak ingin mengambil risiko besar. Jika pun ada kerumuman pihak berwajib akan turun menertibkan.

Sama seperti sebelumnya kebanyakan kajian dan diskusi akan dipindahkan pada platform daring. Jika pun ada yang dilakukan secara offline tentu rasanya akan berbeda di tengah pandemi.

Kita pasti merindukan pengajian yang penuh di bulan Ramadan, semua lapisan masyarakat berbondong-bondong juga membeli takjil di pusat penjualan ataupun memenuhi pusat-pusat keagamaan demi mendengarkan ceramah ustadz-ustadz kondang dan kenamaan.

Keempat, Malam Takbiran

Ilustrasi Malam Takbiran. Sumber: ANTARA FOTO via kumparan.com

Jika di awal Ramadan ada pawai obor menyambut Ramadan, maka di penutupan bulan Ramadan sekaligus menyambut Idul Fitri kita biasanya akan melihat ataupun bergabung dengan keriuhan malam takbiran.

Riuh rendah suara takbir, tahmid, dan tahlil menyeruak memenuhi seluruh penjuru kota dan kampung-kampung. Suasana bahagia menyambut hari kemenangan seakan tidak surut akan gelapnya malam bahkan sampai hari Idul Fitri.

Di malam takbiran biasanya akan ada pawai dan konvoi dan iring-iringan kendaraan, di samping itu juga pelantang dari seluruh penjuru masjid pun bersahut-sahutan.

Bagi para perantau ini momen yang mengharukan sekaligus membahagiakan, bagi mereka yang bisa pulang ke kampung halaman tentu dapat mengobati kerinduan, bagi yang masih di perantauan harus sabar menahan rindu karena keterbatasan.

Di tengah pandemi ini tentu pemerintah menghimbau kita tidak berkumpul dan berkonvoi untuk mengikuti malam takbiran cukup dari rumah ataupun masjid, musala dan surau saja sudah cukup demi menyemarakkan hari kemenangan yang akan datang dengan protokol kesehatan yang aman.

Baca juga:  Asrul Berlari demi Bangun Gereja dan Masjid

Kelima, Mudik ke Kampung Halaman

Ilustrasi Mudik. Sumber:detik.com

Momen mudik adalah salah satu momen paling akbar yang kita saksikan di negeri ini puluhan hingga ratusan orang bermigrasi dari berbagai lokasi untuk kembali pulang ke kampung halaman.

Di masa normal, berdesak-desakan di berbagai moda transportasi umum serta bermacet-macetan sekadar untuk berkumpul dengan keluarga di kampung halaman rela kita jalankan.

Luasnya wilayah Indonesia yang terpisahkan dengan lautan tentu semakin menambah faktor dan alasan kita untuk pulang ke kampung halaman menjelang lebaran setelah hampir setahun berjauhan dengan orang-orang tersayang.

Namun, semua itu seakan sirna ketika pemerintah melarang mudik seluruh warganya terutama pada periode 6-17 Mei 2021, bahkan berbagai pintu kedatangan akan dijaga serta berbagai moda transportasipun akan dilarang untuk beroperasi demi mencegah masifnya angka positif setelah momen berlibur dan berkumpul bersama sanak keluarga.

Tentu kita tidak dapat menyalahkan pemerintah atas larangan ini, sudah sewajarnya mereka berbuat demikian meski diiringi dengan kerancuan tetap dibukanya berbagai tempat objek wisata dalam kurun waktu tersebut.

Sejatinya momen Ramadan dan mudik ini banyak mengerek angka transaksi serta perekonomian Indonesia, namun benar kesehatan bukan hanya ekonomi semata.

Demikianlah 5 tradisi khas Ramadan di Indonesia yang terasa akan berbeda di tahun ini dan tentu kita rindukan kehadirannya seperti semula.

Oleh karena itu, mari kita doakan agar pandemi ini segera berakhir dan semakin banyak juga masyarakat Indonesia divaksin agar kesehatan kita dan keluarga semakin terjamin tak lupa juga tetap terus patuhi protokol kesehatan di manapun dan kapanpun.

Selamat Ramadan 1442 Hijriah.

Sumber: kompasiana.com/Adrian Chandra Faradhipta
Sumber foto: istimewa/getty images

Bagikan

Komentar Anda

komentar