Melampaui masa 19 tahun, Masjid Nasional Al Akbar dan Gereja Katolik Paroki Sakramen di Surabaya sudah saling berdampingan. Rumah ibadah yang terletak di Wilayah Gayungan Kota Surabaya ini tetap menjaga keberagaman serta toleransi beragama sampai saat ini.

Kedua rumah ibadah ini diresmikan dan difungsikan pada tahun yang sama, yaitu sejak tahun 2000. Hanya terpisah jarak 140 meter antara keduanya. Dengan jarak yang sangat dekat itu, antar jamaah masjid dan jemaat gereja dapat saling bercengkrama.

Lalu bagaimana kerukunan serta toleransi antar pihak masjid dan gereja tersebut masih bisa terjaga hingga saat ini?

Pengurus Masjid Al Akbar, Kuswadi mengatakan, selama 19 tahun berdampingan, tak pernah ada gesekan atau konflik antar jemaat gereja dan jamaah masjid. Umat muslim atau kristen di kawasan itu, lanjut Kuswadi, saling menghormati agama serta cara ibadah masing-masing.

“Alhamdulillah, sejak berdirinya gereja & masjid ini tidak pernah sekalipun ada kejadian konflik,” ujar Kuswadi saat kami temui di Bawah Menara Masjid Al Akbar, Minggu (8/9/2019).

Bahkan dari sisi kegiatan, pengurus masjid juga memperbolehkan jemaat gereja untuk berkunjung atau jalan-jalan di sekitar area masjid maupun masuk ke dalam.

“Ada kegiatan saling menghargai. Setiap ada kegiatan di masjid kami pun mengundang pihak gereja begitu juga sebaliknya,” ujar Kuswadi.

Pada peringatan hari-hari besar umat Katolik, pihak gereja pun selalu melibatkan Banser, yg merupakan salah satu badan otonomi organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu NU. Harry Kristomo Kepala Kesekretariatan Gereja Paroki mengatakan, “Setiap ada peringatan hari besar katolik di gereja, kami selalu berkoordinasi melibatkan tim keamanan dari Banser NU”.

 

Sumber : kompasiana.com

Komentar Anda

komentar